SELAMAT DATANG MAHASISWA BARU TAHUN 2020/2021

Senin, 28 September 2020

Puket 3: Mahasiswa PTDII Harus Berpikir Visioner dan Lahirkan Penelitian Berkualitas

 


Dalam penyelesaian pendidikan tingkat akhir, skripsi menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan mahasiswa menguasai materi selama di bangku kuliah. Perguruan Tinggi bahkan memberikan mata kuliah khusus, yaitu metodologi penelitian (metlit) agar mahasiswa benar-benar menguasai penelitian yang akan dituangkan ke dalam karya ilmiah.



Pembantu Ketua (Puket) tiga Sekolah Tinggi Agama Islam-Perguruan Tinggi Dakwah Islam Indonesia (STAI-PTDII), Karmuji Abu Safar, berharap agar mahasiswa tidak membahas penelitian yang sempit. Pasalnya, menurut dia, selama ini objek penelitian mahasiswa tidak jauh dari institusi pesantren, sekolah, masjid, dan majelis taklim.



“Padahal wawasan S1 (sarjana satu) harus meningkat, jangan pola pikirnya jalan di tempat. Misalnya Prodi (program studi) KPI bagaimana berbicara politik Islam, HES (hukum ekonomi syariah) terkait hukum secara global, dan sebagainya,” kata Karmuji di gedung STAI-PTDII, Jakarta, Selasa (29/9).



Lebih lanjut, ia menyarankan mahasiswa bisa mengupas fenomena dunia yang terus mengalami perubahan, baik dari aspek ekonomi, sosial, pendidikan, politik, budaya, pertahanan, dan keamanan. “Jangan sampai pembahasannya mandek,” ujarnya.



Mahasiswa, kata dia, harus berpikir global dan visioner. Karena, tantangan dan rintangan yang akan dihadapi adalah skala dunia. Begitupun dengan universalitas Islam yang dibawakan Rasulullah Saw adalah untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.



“Islam tidak hanya khusus untuk bangsa Arab dan penduduk jazirah Arab saja, tapi untuk seluruh penduduk, bangsa, suku, dan golongan. Artinya cara berpikir kita harus mencontoh pemimpin-pemimpin dunia,” tuturnya.



“Kalau mahasiswa hanya berpikirnya sempit, bagaimana mau memecahkan problematika yang terus berkembang,” imbuhnya.

close
close