Loading...

Selasa, 02 Februari 2016

Dakwah Dengan Video Game

Oleh: Karmuji Abu Safar, S.Sos. I, MA
Dosen STAI PTDII


Pendahuluan

Video game menjadi permainan yang sangat diminati bukan hanya oleh anak-anak dan remaja, tetapi juga orang dewasa.Dalam konteks pendidikan, video game telah lama dimanfatkan sebagai media pendidikan.Video game yang ditujukan untuk pendidikan sudah lama diterapkan dan dikembangkan.

Menurut berita yang dilansir oleh Tempointeraktif[1] dikatakan bahwa sebuah gameberjudul Trauma Centre: Under the Knife telah digunakan untuk simulasi operasi bagi para dokter pemula. Ada juga Kabushiki Baibai Trainer Kabutoregame Jepang untuk simulasi perdagangan saham. Selain itu, game strategi dipakai dalam pendidikan militer. Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa sempat membuat game khusus untuk menanamkan kepedulian sosial di kalangan anak muda.

Pada acara London Game Festival, perusahaan game Electronic Arts mengutarakan sebuah survei berkaitan dengan potensi pemanfaatan game di sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.Survei itu melibatkan 1.000 guru serta lebih dari 2.300 siswa sekolah dasar dan menengah di Inggris. Sekitar 59 persen guru mempertimbangkan menggunakan game yang ada di pasar untuk dipakai di dalam kelas dan 62 persen siswa ingin menggunakan game di sekolah. Bahkan sekitar 55 persen siswa berpendapat bahwa video game justru bisa membuat pelajaran menjadi lebih menarik.Dengan survei ini maka dapat dikatakan bahwa video game memiliki manfaat yang besar dalam dunia pendidikan karena diminati oleh para siswa sehingga prestasi belajar mereka meningkat.

Dalam konteks dakwah, video game dapat menjadi media dakwah untuk menyampaikan pesan-pesan Islam yang paling efektif jika dikelola dengan baik. Namun, masih sangat sedikit umat Islam, terutama para dai, memanfaatkan video game sebagai media dakwah mereka. Seperti apa dakwah dengan video game ini? Sebelum membahas hal tersebut, perlu dijelaskan tentang video game itu sendiri.


Video Game
1.      Pengertian Video Game

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,[2] kata kebiasaan memiliki dua arti, yaitu:pertama, sesuatu yang biasa dikerjakan dan sebagainya; dan kedua, pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang individu dan yang dilakukannya secara berulang untuk hal yang sama. Untuk kepentingan penelitian ini, maka dapat dikatakan bahwa kata kebiasaan berarti sesuatu yang biasa dikerjakan yang dilakukan secara berulang untuk hal yang sama. Sedangkan kata bermain[3] memiliki arti melakukan sesuatu untuk bersenang-senang.

Sedangkan kata video, menurfut Kamus Besar Bahasa Indonesia,[4] memiliki dua pengertian, yaitu: pertama, bagian yang memancarkan gambar pada pesawat televisi; dankedua, rekaman gambar hidup atau program televisi untuk ditayangkan lewat pesawat televisi. Sedangkan menurut Jack Febrian[5], yang dimaksud dengan video adalah suatu perangkat yang berfungsi sebagai penerima gambar dan suara. Untuk arti dari kata game, masih menurut Jack Febrian, adalah permainan. Di dalam dunia teknologi informasi, istilahgame digunakan untuk sarana hiburan yang menggunakan perangkat elektronik.

Di era komputerisasi sekarang ini, game yang berbasis teknologi komputer disebut dengangame online yang, menurut Jack Febrian,   artinya adalah game komputer yang dapat dimainkan oleh multi pemain melalui internet. Biasanya, game online ini disediakan sebagai tambahan layanan dari perusahaan penyedia jasa online atau dapat diakses langsung dengan mengunjungi halaman web yang bersangkutan atau melalui sistem yang disediakan dari perusahaan yang menyediakan permainan tersebut.

Sedangkan arti dari video game sendiri, menurut kamus ilmiah online Wikipedia,[6] adalahgame (permainan) yang melibatkan interaksi pemain (player) dengan controller interface(seperti dua/shock pada Play Station ) yang menghasilkan perubahan pada sebuah layar video. Biasanya, ada sistem “hadiah” yang akan didapatkan oleh player apabila dia berhasil memenuhi target yang sudah disediakan oleh video game tersebut.

Pada pengertian lain, Menurut Mifflin sebagaimana yang dikutip dari Alfon Sius Pas,[7]Video game adalah permainan yang dimainkan melawan komputer. Sedangkan game yang dikategorikan sebagai video game adalah kombinasi penggunaan televisi atau mediadisplay sebagai media visual dan console sebagai tempat atau media penerjemah dari kaset atau compact disc (cd).

2.      Perkembangan Video Game
Menurut Budi Putra,[8] sejalan dengan makin membanjirnya para penggemar video game, teknologi piranti lunak untuk permainan ini pun berkembang kian pesat. Dari sekadar video game berbasis PC atau TV yang dimainkan sendiri atau secara bersama (multiplayer) di sebuah medium yang sama, kini mulai bergerak menuju permainan yang terhubung secaraonline. Artinya, seorang pemain (player) akan bisa adu strategi dan ketrampilan dengan sejumlah pemain lain yang berada di belahan dunia yang lain. Keberadaan internetlah yang memungkinkan hal itu terjadi. Tidak salah lagi, game online akhirnya merupakan masa depan bagi para kreator game. Meskipun jalan menuju ke sana masih menemui kendala, terutama disebabkan oleh kemampuan teknologi yang belum maksimal, game online tetap menyimpan banyak harapan. Sony, Nintendo dan Microsoft misalnya, baru saja mengumumkan ambisi mereka untuk merancang suatu game interaktif — sesuatu yang sudah diprediksi banyak pakar sejak peluncuran Ultima Online tahun 1997. Selain itu, permainan games online yang melibatkan tim-tim international maju selangkah lagi ketika Sony Online dan NCSoft bergandengan tangan dalam mengusung EverQuest ke Asia .


3.      Jenis-jenis Video Game
Secara umum, dalam bentuk fisik dan teknologi yang digunakan, video game terbagi atas dua jenis, yaitu yang berbasis komputer (baik PC maupun Note Book) dan yang berbasis konsol (seperti Nitendo, Play Station, X Box dan lain-lain).
Video game berbasis komputer , secara fisik, terbagi lagi menjadi dua jenis, yaitu video game yang menggunakan software dalam bentuk CD dan yang menggunakan internet (tanpa CD) yang disebut dengan game online.

Video game online berbasis komputer, dalam bentuk permainannya juga terbagi lagi menjadi tiga jenis,[9] yaitu:
·         CRPG (Computer Role-Playing Game, permainan peran komputer). Jenis ini adalahpermainan video yang berakar pada komputer pribadi (PC), yang memiliki unsur-unsurpermainan peran (RPG). CRPG pada awalnya dibuat berdasarkan permainan peran tradisional seperti Dungeons & Dragons, dan menggunakan peraturan dan mekanik yang sama dengan apa yang ditemukan pada permainan tersebut. Ceritanya biasanya berupa sekelompok karakter yang bergabung membentuk kelompok, untuk menyelesaikan sebuah misi atau “quest“. Dalam perjalanannya, kelompok ini akan menghadapi berbagai macam tantangan dan musuh, yang biasanya berupa monster yang terinspirasikan dari dunia fiksi-ilmiah atau mitologi
·         MMORPG (Massively Multiplayer Online Role Playing Game)adalah jenis permainan multi pemain dengan missal secara online) adalah permainan role-playing game (RPG) yang melibatkan ribuan pemain untuk bermain bersama dalam dunia maya yang terus berkembang pada saat yang sama melalui media internet.
·         RTS (Real-time strategy) adalah jenis permainan komputer yang memiliki ciri khas berupa permainan perang yang terdiri atas pembangunan kekuatan/negara, pengumpulan sumberdaya, serta pembangunan dan pengaturan pasukan-pasukanDisebut strategy karena jenis permainan ini melibatkan pengaturan perang tingkatstrategis misalnya pasukan, peperangan, dan diplomasi. Meskipun militer merupakan aspek dominan dalam RTS, RTS juga melibatkan aspek lain seperti ekonomi,pembangunan, dan diplomasi suatu negara. RTS dibedakan dari turn-based strategydimana dalam RTS permainan tidak mengenal giliran. Setiap pemain dapat mengatur/memerintah pasukannya dalam waktu apapun. Dalam RTS, tema permainan dapat berupa sejarah (misalnya seri Age of Empires), fantasi (misalnya Warcraft) danfiksi ilmiah (misalnya Star Wars).

Untuk video game berbasis konsol, yang terkenal adalah jenis cRPG (Console Role-Playing Game, Permainan peran konsol) yang memiliki unsur-unsur permainan peran(RPG). Istilah ini juga berlaku pada permainan video pada sistem konsol genggam sepertiGame Boy Advance dan PSP.Unsur-unsur sejarahbudaya, dan kemampuan perangkat keras, membuat permainan peran konsol telah berevolusi untuk memiliki ciri-ciri khas yang membedakannya dari RPG elektronik lainnya.Karena sebagian besar cRPG berawal diAsia Timur, khususnya Jepang, cRPG sering disebut JRPG (Japanese Role-Playing Game).

Dari penjelasan di atas, penulis menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kebiasaan bermain video game adalah melakukan sesuatu untuk bersenang-senang dengan berulang-ulang yang melibatkan interaksi pemain satu orang atau lebih dengan controller interface yang menghasilkan perubahan pada sebuah layar video yang merupakan hasil kombinasi penggunaan televisi atau media display sebagai media visual dengan consolesebagai tempat atau media penerjemah dari kaset atau compact disc (CD). Biasanya, ada sistem “hadiah” yang akan didapatkan oleh player apabila dia berhasil memenuhi target yang sudah disediakan oleh video game tersebut.

1.      Faktor-Faktor Bermain Video Game
Menurut Alan Shiu Ho Kwan, sebagaimana yang dikutip oleh Budi Putra,[10] setidaknya ada enam faktor yang melatari seseorang bermain video game, yaitu: adanya tawaran kebebasan, keberagaman pilihan, daya tarik elemen-elemen gambar, antarmuka(interface), tantangan dan aksesibilitasnya. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
·         Tawaran kebebasan. Pada Video game, adalah pemain dapat dengan bebas mengatur waktu tempat, dan permainan yang bisa ia mainkan, terutama sekali untuk game onlineyang dapat dimainkan selama 24 jam penuh tanpa henti.
·         Keberagaman pilihan. Di video game, tersedia banyak pilihan permainan dan judul yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan game Jepang dan Barat (Eropa dan Amerika Serikat). Diperkirakan saat ini sudah ada di atas lima ratusan judul video game yang diperuntukan untuk anak-anak, remaja atau dewasa.
·         Daya tarik elemen gambar dan interface. Video game generasi terkini memiliki tingkat resolusi gambar yang tinggi bahkan sudah menggunakan teknologi gambar tiga dimensi yang pewarnaannya mirip dengan dunia nyata. Dengan gambar tiga dimensi ini, seakan-akan pemain menjadi bagian dari permainan itu sendiri atau antarmuka (interface).
·         Tantangan dan aksesibilitas. Secara umum di setiap video game, tantangan yang ada dibuat secara bertingkat, dari tingkat yang paling mudah sampai tingkat yang paling sulit. Juga disediakan alat atau jalan untuk mempermudah pemain jika berada pada kesulitan tertentu dalam sebuah permainan. Hal inilah yang membuat pemain tertantang untuk terus melanjutkan permainan sampai akhir.

Video Game Untuk Dakwah
Menurut M. Shiddiq Al Jawi dalam makalahnya yang berjudul Bahaya Hiburan dan Permainan[11] bahwa bermain dalam Islam tidak dilarang. Rasulullah saw. sendiri pernah berlomba lari dengan ‘Aisyah ra. (HR Ahmad dan Abu Dawud).Ini menunjukkan bahwa Islam membolehkan hiburan atau permainan, tentu sepanjang sesuai syariah Islam. (Yusuf Qaradhawi, Al Halal wal Haram fil Islam, hlm. 252-254).

Secara umum, hiburan dan permainan yang sesuai syariah Islam wajib memenuhi 3 (tiga) syarat sebagai berikut;
Pertama, hiburan/permainan itu haruslah halal secara syariah, misalnya olah raga lari, memanah, renang, dan sebagainya.Jadi tidak boleh hiburan/permainan itu berupa sesuatu yang haram, baik haram dari segi zatnya (seperti narkoba, minuman keras), maupun haram dari segi aktivitasnya (seperti perjudian, prostitusi, seks bebas, dsb).Keharaman dari segi aktivitasnya ini, banyak sebab dan rinciannya dalam syariah Islam.Misalkan ada hiburan/permainan yang diharamkan karena menyerupai kaum non muslim (tasyabbuh bil kuffar), misalnya merayakan hari raya non muslim (misal Natalan), atau diharamkan karena menyerupai lain jenis, misal bermain drama dimana laki-laki berperan sebagai wanita atau sebaliknya.

Kedua, hiburan/permainan tidak boleh melalaikan kita dari kewajiban.Misalnya, kewajiban sholat, bekerja, menutup aurat, menuntut ilmu, berdakwah, dan sebagainya.Jadi ketika berolah raga renang misalnya, tidak boleh mengumbar aurat atau bentuk tubuh.Ketika olahraga lari atau sepak bola, misalnya, tidak boleh mengenakan celana pendek, karena hal itu berarti meninggalkan kewajiban menutup aurat.Tidak boleh pula lari pagi dengan meninggalkan sholat Shubuh misalnya.Tidak boleh pula pergi memancing tapi meninggalkan kewajiban dakwah atau ngaji, atau dilakukan dengan membolos kerja.

Ketiga, hiburan/permainan itu tidak boleh membahayakan (mudharat), misalnya olahraga beladiri tanpa latihan yang benar, mendaki gunung tanpa persiapan fisik atau peralatan yang memadai, dan sebagainya.Jadi kalau beladiri dilakukan dengan latihan yang benar, atau mendaki gunung dengan persiapan yang memadai, hukumnya tidak haram.

Dikarenakan Islam tidak melarang permainan dan hiburan, maka permainan seperti video game dapat dijadikan media dakwah. Contoh yang sudah ada seperti video game Merangkai Huruf Hijaiyah, Puzzle Al-Qur`an yang dikeluarkan oleh Mizan Apps Publisher, Game Anak Islam-Seri Petualangan yang dikeluarkan oleh Akal Interaktif, dan lain-lain. Dengan game-game ini dakwah Islam lebih efektif sampai kepada anak-anak dalam meningkatan kemampuan anak-anak membaca Al-Qur`an dan menanamkan nilai-nilai Islam.

Penutup
         Perkembangan video game begitu pesat karena sebagai bentuk permainan yang sangat sangat diminati.Sebagai media, alat, tentu kebaikan dan keburukan video game utamanya tergantung juga dengan konten, isi, permainan yang diprogramkan di dalam video game.

Maka, para dai harus mampu memanfaatkan video game ini untuk dakwah mereka. Sebab, dakwah yang paling efektif adalah masuk kepada sesuatu yang digemari obyek dakwah, dalam hal ini video game. ***


[1]Darma, “Bila Game Masuk Kurikulum Sekolah”, diakses dari situs


[2]Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi
Ketiga,(Jakarta: Balai Pustaka, 2002), h.146.

 [3]Ibid., h. 698.

[4]Ibid., h. 1260.

[5]Jack Febrian, Pengetahuan Komputer dan Teknologi Informasi¸ (Bandung: Informatika, 2004), cet.ke-1, h. 436.

[6]Wikipedia, “Permainan Video”, yang diakses dari situs internethttp://www.wikipedia.org/wiki/video-game , 7 April 2007

[7]Alfon Sius Pas, Permainan Agresif Pada Anak yang Memiliki Hobi Bermain Video Game,(Jakarta: Universitas Guna Darma, 2007), ttd., h.2.

[8]Ibid.

[9]Wikipedia, “Video Game”, diakses dari situs http://www.wikipedia.org/wiki/video-game , 9 April 2007

[10]Budi Putra, “Game Online dan Magnit Multikultural”, diakses dari situshttp://www.thegadgetnet.com, 8 April 2007

[11] M. Shiddiq Al Jawi dalam makalahnya yang berjudul Bahaya Hiburan dan Permainan, https://id-id.facebook.com/ceramah.ideologis/posts/499926516744095


close
close