Loading...

Rabu, 03 Februari 2016

Pendidikan Kewirausahaan di Pendidikan Kader Ulama

Oleh: Ace Toyib Bahtiar, S.E, M.M
Dosen STAI PTDII

Pendahuluan
Ulama jangan sampai mengandalkan urusan ekonominya, pemenuhan kebutuhan hidupnya, dari murid-muridnya.Ulama harus mampu mandiri, mempunyai usaha untuk menghidupi dirinya dan keluarganya. Rasulullah saw. Sendiri adalah pedagang, dan para sahabat yang alim juga menghidupi diri mereka dengan berdagang, berkebun atau berternak.

Begitu pula dengan ulama mutaakhirin, seperti di Betawi.Contoh Guru Mughni adalah pengusaha, Muallim Radjiun Pekojan pedagang kuda, K.H. M. Syafi`i Hadzami juga seorang pedagang.Para ulama yang menghidupi dirinya dengan berwirausaha ini sangat memahami hadits bahwa “tangan di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah”.

Maka, dalam program pendidikan kader ulama, dalam hal ini Pendidikan Dasar Ulama (PDU) yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sangat perlu dimasukkan pelajaran kewirausahaan, agar kelak ketika para kader ini menjadi ulama yang berdikari, yang menghidupi dirinya dan keluarganya dari hasil keringat usahanya sendiri, tidak tergantung bahkan menjadi beban orang lain, beban murid-muridnya. Seperti apa pendidikan kewirausahaan bagi kader ulama ini, khususnya di PDU? Sebelum membahas hal ini, terlebih dahulu dijelaskan tentang pendidikan, kewirausahaan dan pendidikan dasar ulama (PDU).

Pendidikan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang di usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. [1]

Namun menurut Nanang Fattah, walaupun telah sama-sama mengarah pada suatu tujuan tertentu, para ahli belum seragam dalam mendefinisikan istilah pendidikan, contohnya: Driyarkara mengatakan bahwa pendidikan adalah memanusiakan manusia muda atau pengangkatan manusia muda ke taraf mendidik. Sedangkan di dalam Dictionary of Education dinyatakan bahwa pendidikan adalah: pertama, proses seseorang mengembangkan kemampuan, sikap, dan tingkah laku lainnya di dalam masyarakat tempat mereka hidup; dan kedua, proses sosial yang terjadi pada orang yang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah), sehingga mereka dapat memperoleh perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimum. [2]

Lain lagi yang dinyatakan oleh Crow and Crow bahwa pendidikan tidak hanya dipandang sebagai sarana untuk persiapan hidup yang akan datang, tetapi juga untuk kehidupan sekarang yang dialami individu di dalam perkembangannya menuju ke tingkat kedewasaannya.

Namun demikian, menurut Nanang Fattah, dari pengertian-pengertian yang beragam di atas dapat diidentifikasi beberapa ciri pendidikan, antara lain, yaitu: pertama, pendidikan mengandung tujuan, yaitu kemampuan untuk berkembang sehingga bermanfaat untuk kepentingan hidup; kedua, untuk mencapai tujuan itu pendidikan melakukan usaha yang terencana dalam memilih isi (materi), strategi, dan teknik penilaiannya yang sesuai; danketiga, kegiatan pendidikan dilakukan dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat (formal dan non formal).

Menurut Malcolm Knowles bahwa apa yang diketahui oleh masyarakat umum tentang belajar selama ini adalah merupakan kesimpulan dari berbagai kajian terhadap perilaku kanak-kanak dan binatang percobaan tertentu. Pada umumnya memang, apa yang kita ketahui kemudian tentang mengajar juga merupakan hasil kesimpulan dari pengalaman mengajar terhadap anak-anak. Sebagian besar teori belajar-mengajar, didasarkan pada perumusan konsep pendidikan sebagai suatu proses pengalihan kebudayaan. Atas dasar teori-teori dan asumsi itulah kemudian tercetus istilah “pedagogy” yang akar-akarnya berasal dari bahasa Yunani, paid berarti kanak-kanak dan agogos berarti memimpin. Kemudian pedagogy mengandung arti memimpin anak-anak atau perdefinisi diartikan secara khusus sebagai suatu ilmu dan seni mengajar kanak-kanak.Akhirnya pedagogy kemudian didefinisikan secara umum sebagai lmu dan seni mengajar.[3]

Sedangkan andragogy berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni andra berarti orang dewasa dan agogos berarti memimpin.Perdefinisi andragogy kemudian dirumuskan sebagai suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar. Kata andragogy pertama kali digunakan oleh Alexander Kapp pada tahun 1883 untuk menjelaskan dan merumuskan konsep-konsep dasar teori pendidikan Plato.Meskipun demikian, Kapp tetap membedakan antara pengertian “Social-pedagogy” yang menyiratkan arti pendidikan orang dewasa, dengan andragogy. Dalam rumusan Kapp, Social-pedagogy lebih merupakan proses pendidikan pemulihan (remedial) bagi orang dewasa yang cacat. Adapun andragogy, justru lebih merupakan proses pendidikan bagi seluruh orang dewasa, cacat atau tidak cacat secara berkelanjutan.[4]


Untuk memahami perbedaan antara pengertian pedagogy dengan pengertian andragogy yang telah dikemukakan, menurut Supriadi harus dilihat terlebih dahulu empat perbedaan mendasar, yaitu:
Pertama, citra diri.Citra diri seorang anak-anak adalah bahwa dirinya tergantung pada orang lain. Pada saat anak itu menjadi dewasa, ia menjadi kian sadar dan merasa bahwa ia dapat membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Perubahan dari citra ketergantungan kepada orang lain menjadi citra mandiri. Hal ini disebut sebagai pencapaian tingkat kematangan psikologis atau tahap masa dewasa. Dengan demikian, orang yang telah mencapai masa dewasa akan berkecil hati apabila diperlakukan sebagai anak-anak. Dalam masa dewasa ini, seseorang telah memiliki kemauan untuk mengarahkan diri sendiri untuk belajar. Dorongan hati untuk belajar terus berkembang dan seringkali justru berkembang sedemikian kuat untuk terus melanjutkan proses belajarnya tanpa batas. Implikasi dari keadaan tersebut adalah dalam hal hubungan antara guru dan murid. Pada proses andragogy, hubungan itu bersifat timbal balik dan saling membantu. Pada proses pedagogy, hubungan itu lebih ditentukan oleh guru dan bersifat mengarah.

Kedua, pengalaman.Orang dewasa dalam hidupnya mempunyai banyak pengalaman yang sangat beraneka. Pada anak-anak, pengalaman itu justru hal yang baru sama sekali.Anak-anak memang mengalami banyak hal, namun belum berlangsung sedemikian sering. Dalam pendekatan proses andragogy, pengalaman orang dewasa justru dianggap sebagai sumber belajar yang sangat kaya. Dalam pendekatan proses pedagogy, pengalaman itu justru dialihkan dari pihak guru ke pihak murid. Sebagian besar proses belajar dalam pendekatan pedagogy, karena itu, dilaksanakan dengan cara-cara komunikasi satu arah, seperti ; ceramah, penguasaan kemampuan membaca dan sebagainya. Pada proses andragogy, cara-cara yang ditempuh lebih bersifat diskusi kelompok, simulasi, permainan peran dan lain-lain. Dalam proses seperti itu, maka semua pengalaman peserta didik dapat didayagunakan sebagai sumber belajar.

Ketiga, kesiapan belajar.Perbedaan ketiga antara pedagogy dan andragogy adalah dalam hal pemilihan isi pelajaran. Dalam pendekatan pedagogy, gurulah yang memutuskan isi pelajaran dan bertanggung jawab terhadap proses pemilihannya, serta kapan waktu hal tersebut akan diajarkan. Dalam pendekatan andragogy, peserta didiklah yang memutuskan apa yang akan dipelajarinya berdasarkan kebutuhannya sendiri. Guru sebagai fasilitator.

Keempat, nirwana waktu dan arah belajar. Pendidikan seringkali dipandang sebagai upaya mempersiapkan anak didik untuk masa depan. Dalam pendekatan andragogy, belajar dipandang sebagai suatu proses pemecahan masalah ketimbang sebagai proses pemberian mata pelajaran tertentu. Karena itu, andragogy merupakan suatu proses penemuan dan pemecahan masalah nyata pada masa kini. Arah pencapaiannya adalah penemuan suatu situasi yang lebih baik, suatu tujuan yang sengaja diciptakan, suatu pengalaman pribadi, suatu pengalaman kolektif atau suatu kemungkinan pengembangan berdasarkan kenyataan yang ada saat ini. Untuk menemukan “dimana kita sekarang” dan “kemana kita akan pergi”, itulah pusat kegiatan dalam proses andragogy. Maka belajar dalam pendekatan andragogy adalah berarti “memecahkan masalah hari ini”, sedangkan pada pendekatan pedagogy, belajar itu justru merupakan proses pengumpulan informasi yang sedang dipelajari yang akan digunakan suatu waktu kelak.[5]

Dari penjelasan di atas maka secara garis besar, konsep pendidikan dapat dibagi kepada dua aliran, yaitu Pedagogy dan Andragogy. Menurut William F. O` Neil, seorang pakar pendidikan dari barat sebagaimana yang dikutip oleh Ibun, Pedagogy merupakan konsep pendidikan yang biasanya dipakai di dalam pendidikan yakni bahwa pendidikan itu menempatkan murid sebagai obyek di dalam pendidikan. Murid harus menerima pendidikan yang sudah di-set up oleh sistem pendidikan, di set up oleh gurunya atau pengajarnya mengenai apa-apa saja yang harus dipelajari, materi-materi apa saja yang akan diterima, yang akan disampaikan, metode panyampaiannya, dan lain-lain. Hal itu semua tergantung kepada pengajar dan tergantung kepada sistem.Murid hanyalah obyek dari pendidikan.Dari konsep ini kemudian muncull konsep pendidikan fundamentalis, intelektual dan konservatif. [6]

Terkait dengan fundamentalisme pendidikan maka orang-orang yang menggunakan konsep pendidikan fundamentalis pada dasarnya anti-intelektual dalam arti bahwa mereka ingin meminimalkan pertimbangan-pertimbangan filosofis dan atau intelektual, serta cenderung untuk mendasarkan diri mereka pada penerimaan yang relatif tanpa kritik terhadap kebenaran yang diwahyukan atau konsensus sosial yang sudah mapan.Kebenaran yang diajarkan di dalam pendidikan adalah kebenaran yang condong dikatakan mutlak benar, bersifat wahyu, relatif tanpa kritik.Pendidikan yang seperti ini banyak dipakai di abad pertengahan oleh pihak agamawan, maupun sampai sekarang juga dipakai oleh pihak agamawan, tanpa memberi kesempatan kadang untuk siswa berpikir yang berbeda, atau meminimkan perkembangan intelektual dari siswanya.Perbedaan bukan dianggap sebagai hal yang biasa, melainkan sudah dianggap sebagai perselisihan yang kadang dianggap sebagai sebuah perlawanan atau pemberontakan.

O` Neil juga menjelaskan tentang Intelektualisme pendidikan sebagai berikut bahwa pada dasarnya tetap saja siswa merupakan obyek dari pendidikan yang dipakai sebagai landasan, di mana sistem dan guru tetap bersifat otoriter, intelektual dipakai dengan tidak bertentangan kepada nilai-nilai kebenaran yang sudah ada, yang sudah mapan.

Untuk konservatisme pendidikan, O` Neil juga menjelaskan sebagai berikut bahwa konservatisme pada dasarnya adalah posisi yang mendukung ketaatan terhadap lembaga-lembaga dan proses-proses budaya yang sudah teruji oleh waktu (sudah cukup tua atau dan mapan), didampingi dengan rasa hormat mendalam terhadap hukum dan tatanan, sebagai landasan perubahan sosial yang konstruktif.Pendidikan yang konservatif beranggapan bahwa sasaran utama sekolah adalah pelestarian dan penerusan pola sosial serta tradisi-tradisi yang sudah mapan. Kelemahannya adalah, bahwa dengan penerapan konsep Pedagogy ini, manusia (dalam hal ini adalah siswa) yang memiliki keunikan sendiri, yang memiliki talenta sendiri, memiliki minat sendiri, memiliki kelebihan sendiri, menjadi tidak berkembang, menjadi tidak bisa mengeksplor dirinya sendiri, tidak mampu menyampaikan kebenarannya sendiri, sebab yang memiliki kebenaran adalah masa lalu, adalah sesuatu yang sudah mapan dan sudah ada sampai sekarang. Perbedaan bukanlah menjadi hal yang biasa, melainkan jika ada yang berbeda itu akan dianggap sebagai sebuah perlawanan dan pemberontakan.

Tetapi Pedagogy memiliki kelebihan tersendiri, yakni berperan sebagai rantai keilmuan yang sudah diawali oleh orang-orang terdahulu di mana rantai emas dan benang merah keilmuan bisa dilanjutkan oleh generasi mendatang. Generasi mendatang tidak perlu mulai dari nol lagi, melainkan tinggal melanjutkan apa yang sudah ditemukan, apa yang sudah dirintis, apa yang sudah dimulai oleh generasi mendatang.

Seperti sisi mata uang yang berbeda dari satu keping, kalau di satu sisi adalah Pedagogy, maka di sisi yang lain adalah Andragogy, yakni konsep pendidikan yang meletakkan siswa sebagai subyek dari pendidikan.Bukan lagi sebagai obyek, tetapi sebagai subyek dari pendidikan.

Dari konsep pendidikan Andragogy inilah, kita kenal istilah-istilah Enjoy Learning, Workshop, Pelatihan Outbond,dan lain-lain, dan dari konsep pendidikan Andragogy inilah kemudian muncul konsep-konsep Liberal, Liberasionis dan Anarkis.  William F. O’Neil menyebutnya dengan pendidikan Liberal yang oleh O’Neil dibagi menjadi tiga macam yaitu Liberalisme pendidikan, Liberasionisme pendidikan dan Anarkisme pendidikan.

O’Neil menjelaskan Liberalisme pendidikan sebagai berikut bahwa tujuan jangka panjang pendidikan adalah untuk melestarikan dan memperbaiki tatanan sosial yang ada dengan cara mengajar setiap siswa sebagaimana cara menghadapi  persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari secara efektif.

Mengenai Liberasionisme pendidikan, O’Neil menjelaskan sebagai berikut bahwa Liberasionisme pendidikan adalah sebuah sudut pandang yang menganggap bahwa harus ada perombakan berlingkup besar terhadap tatanan politik (dan pendidikan) yang ada sekarang, sebagai cara untuk memajukan kebebasan-kebebasan individu dan mempromosikan perujudan potensi-potensi diri semaksimal mungkin. Sebagai contoh, Tahun 1950 atas ide dari Robert Mayard Hutchins, sistem absesnsi buat siswa sudah ditiadakan di sebagian Amerika dan juga sistem SKS sudah ditiadakan juga. Siswa dibebaskan atas apa yang ingin mereka pelajari, sesuai minat dan bakat mereka masing-masing. Bagi pendidik liberasionis, sekolah bersifat obyektif namun tidak sentral dan sekolah bukan hanya mengajarkan pada siswa bagaimana berpikir yang efektif secara rasional dan ilmiah, melainkan juga mengajak siswa untuk memahami kebijaksanaan tertinggi yang ada di dalam pemecahan-pemecahan masalah secara intelek yang paling meyakinkan. Dengan kata lain, liberasionisme pendidikan dilandasi oleh sebuah sistem kebenaran yang terbuka. Secara moral, sekolah berkewajiban mengenalkan dan mempromosikan program-program sosial konstruktif dan bukan hanya melatih pikiran siswa.Sekolah pun harus memajukan pola tindakan yang paling meyakinkan yang didukung oleh sebuah analisis obyektif berdasarkan fakta-fakta yang ada. Hal ini sejalan dengan pendapat Aristoteles tentang prinsip pendidikan yaitu sebagai wahana pengkajian fakta-fakta, mencari “yang obyektif” , melalui pengamatan atas kenyataan.

Sedangkan untuk Anarkisme pendidikan, O’Neil menjelaskan bahwa seperti pendidik liberal dan liberasionis, pada umumnya (anarkisme pendidikan) menerima sistem penyelidikan eksperimental yang terbuka (pembuktian pengetahuan melalui penalaran ilmiah). Tetapi berbeda dengan liberal dan liberasionis, Anarkisme pendidikan beranggapan bahwa harus meminimalkan dan atau menghapuskan pembatasan-pembatasan kelembagaan terhadap perilaku personal yang harus dilakukan agar masyarakat terbebas dari lembaga pendidikan.. Menurut Anarkisme pendidikan, pendekatan terbaik terhadap pendidikan adalah pendekatan yang mengupayakan untuk mempercepat perombakan humanistik berskala besar yang mendesak ke dalam masyarakat, dengan cara menghapuskan sistem persekolahan sekalian.

Sekali lagi menurut O` Neil, konsep Andragogy pun memiliki kelebihan dan kelemahannya sendiri.Beberapa kelebihan memang memberikan sarana, wadah dan sistem bagi talenta masing-masing siswa untuk berkembang sesuai minat dan bakat masing-masing.Tetapi sistem Andragogy ini memiliki kelemahan pula. Salah satunya adalah bahwa siswa bukanlah manusia dewasa yang dapat dengan bebas memilih apa yang mereka sukai karena luasnya ilmu pengetahuan sehingga kemungkinan besar mereka akan salah memilih dan merugikan diri mereka sendiri sangatlah besar.

Kewirausahaan
            Wirausaha berasal dari kata wira & usaha, kata wira artinya pahlawan atau pejuang, sedangkan usaha artinya adalah perbuatan, sikap atau berbuat sesuatu.Seorang wirausahawan menurut Joseph Schumpeter adalah seorang inovator yang melakukan berbagai perubahan didalam pasar lewat penggabungan beberapa hal atau sesuatu yang baru. Adapun sesuatu yang baru tersebut bisa dalam bentuk: Ada produk baru yang dikenalkan, ada metode produksi baru yang dikenalkan, dibukanya pasar yang baru (new market), diperolehnya sumber pasokan baru dari komponen yang baru, dijalankannya suatu organisasi baru pada sebuah perusahaan.[7]

Kata wirausaha mendapat imbuhan ke dan an menjadi kewirausahaan yang memiliki arti segala sesuatu yang terkait dengan wirausaha.

Seseorang dikatakan wirausaha sudah tentu memenuhi definisi wirausaha itu sendiri, untuk lebih jelasnya silahkan dibaca  ciri ciri wirausaha dibawah ini: Memiliki keberanian mempunyai daya kreasi, berani mengambil risiko, memiliki semangat dan kemauan keras, memiliki analisis yang tepat, tidak konsumtif, memiliki jiwa pemimpin, dan berorientasi pada masa depan.[8]


Pendidikan Dasar Ulama
Dasar pemikiran diadakannya program Pendidikan Dasar Ulama (PDU) yang disusun oleh MUI Propinsi DKI Jakarta, yaitu bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat dewasa ini telah mengantarkan manusia memasuki era informasi dan globalisasi. Namun, kemajuan itu telah pula membawa ekses negatif pada prilaku, pola hidup, dan kehidupan manusia termasuk dalam beragama.Hal tersebut tercermin pada kecederungan atas adanya ketimpangan antar kehidupan fisik materil dan mental spiritual. Lebih dari itu, munculnya gaya hidup materialis dan konsumtif serta individualis telah merambah sebagian kehidupan umat Islam. Agar umat Islam Indonesia mampu meraih kemajuan-kemajuan di bidang Iptek, dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama Islam dalam bersikap dan berprilaku sesuai dengan kepribadian bangsa, maka diperlukan ulama-ulama yang mampu menjadi pelopor dalam meraih kemajuan serta mampu memberikan bimbingan moral dan spiritual di tengah-tengah arus materialisme yang telah mewabah dewasa ini. Kebutuhan terhadap kader-kader ulama yang memenuhi kualifikasi tersebut semakin mendesak setelah sebagian ulama wafat atau udzur karena lanjut usia, sedangkan calon penerusnya belum memadai, baik kualitas maupun kuantitasnya.

Untuk melahirkan bibit-bibit ulama yang memenuhi kualifikasi di atas, yakni ulama yang mampu menjadi waratsatul anbiya` (pewaris para Nabi) dan khadimul ummah (pelayan masyarakat), maka MUI Provinsi DKI Jakarta terpanggil untuk menyiapkan kader-kader ulama yang memiliki integritas, baik moral maupun intelektual dengan menyelenggarakan Pendidikan Dasar Ulama (PDU).

Dari dasar pemikiran di atas, MUI Propinsi DKI Jakarta kemudian merumuskan pencapaian tujuan program PDU sebagai berikut, yaitu terwujudnya ulama yang berakhlak mulia, menguasai ilmu-ilmu ke-Islaman, memahami konsep dan tanggap (responsif) terhadap dinamika sosial, memiliki kemampuan di dalamn memimpin, membimbing dan melayani ummat atau bangsa menuju tercapainya masyarakat yang berharkat dan bermartabat, adil dan makmur dalam naungan ridho Allah SWT.

Pendidikan Kewirausahaan di PDU
Untuk pencapaian tujuan program PDU y berupa terwujudnya ulama yang berakhlak mulia, menguasai ilmu-ilmu ke-Islaman, memahami konsep dan tanggap (responsif) terhadap dinamika sosial, memiliki kemampuan di dalamn memimpin, membimbing dan melayani ummat atau bangsa menuju tercapainya masyarakat yang berharkat dan bermartabat, adil dan makmur dalam naungan ridho Allah swt.pendidikan kewirausahaan sangat diperlukan.

Kurikulum kewirausahaan di PDU harus mengarah kepada hasil berupa lulusan yang memiliki keberanian mempunyai daya kreasi, berani mengambil risiko, memiliki semangat dan kemauan keras, memiliki analisis yang tepat, tidak konsumtif, memiliki jiwa pemimpin, dan berorientasi pada masa depan.

Penutup
PDU merupakan salah satu program dari MUI untuk mencetak ulama yang dapat menjawab persoalan umat, diantaranya pengangguran dan kemiskinan.Kedua hal ini tetap menjadi persoalan karena jumlah orang miskin di Indonesia masih besar yaitu 70 juta.Keahlian kewirausahaan yang dimiliki ulama tidak hanya untuk keperluan dirinya saja, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mengentasi pengangguran dan kemiskinan. ***

[1]Ibid., h.263.
 [2]Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), Cet.ke-7, h. 4.
[3]Supriadi, “Andragogi”, diakses dari situshttp://www.andragogi.com/document/andragogi.htm . tanggal 1 Agustus 2007, jam 10.00 WIB
[4]Ibid.
[5]Ibid.
[6]Ibun, “Pedagogy VS Andragogy”, diakses dari situs http://mail-archive.com tanggal 09 April 2007
[7] http://www.seputarpengetahuan.com/2015/03/18-pengertian-kewirausahaan-menurut.html
[8]http://www.apapengertianahli.com/2015/06/pengertian-kewirausahaan-dan-wirausaha-ciri-tujuan.html


close
close