Loading...

Selasa, 06 Maret 2018

Pengaruh Makanan Instan Bagi Kesehatan Dan Gaya Konsumerisme Pada Masyarakat Urban

Oleh:Karmuji Abu Safar
Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Perguruan Tinggi Da’wah Islam Indonesia
STAI- PTDII
Email : karmujiabusafar@gmail.com
(Jakarta,  05 Maret 2018)

ABSTRAK
Kajian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dampak makanan instan bagi kesehatan terhadap konsumerisme masyarakat urban. Keberadaan restoran-restoran yang menyediakan makanan instan yang semakin menjamur di kota-kota besar di Indonesia, yang menyajikan berbagai makanan siap saji. Dalam sehari seorang remaja mampu mengonsumsi beberapa jenis makanan instan dari makanan ringan sampai makanan pokok yang digantikan dalam bentuk instan. Makanan instan seakan telah mendarah daging dalam diri mereka. Bahkan ada yang menjadikannya sebagai makanan sehari-hari. Pengaruh masyarakat karena mengkonsumsi makanan instan adalah adanya komunikasi massa yaitu seseorang yang mampu mempengaruhi satu sama lain dan menjadikan gaya hidup seseorang menjadi berubah modern tanpa peduli akibat dari makanan instan yang dikonsumsi bagi kesehatan. Namun pengaruh itu bisa juga karena faktor lingkungan dan invidual masing-masing. Dampak terbesar makanan instan adalah kesehatan bagi konsumen.

Kata Kunci: Kesehatan, Konsumerisme dan Masyarakat Urban

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya, manusia telah berusaha selama jutaan tahun untuk meningkatkan jumlah persediaan bahan pangan dengan menciptakan cara-cara yang lebih baik untuk memproduksi dan menimbun hasil. Keberhasilan dalam usaha tersebut, yang kemudian diperbaiki dan disempurnakan terus sepanjang zaman, telah mendasari cara hidup menetap yang menjadi landasan peradaban manusia kini.
Bahan pangan adalah bahan yang memungkinkan manusia tumbuh dan mampu memelihara tubuhnya serta berkembang biak. Bahan pangan pada umumnya terdiri atas zat-zat kimia, baik yang terbentuk secara alami ataupun secara sintetis dalam berbagai bentuk kombinasi dan yang berperanan sama pentingnya bagi kehidupan seperti halnya air dan oksigen. Karena itu, baik oksigen maupun air, keduanya merupakan bagian dari bahan pangan yang sangat penting.
            Semua hasil daya pikir dan daya kreasi manusia adalah budaya manusia dalam arti seluas-luasnya. Sebagian dari budaya manusia yang erat hubungannya dengan rasio dapat digolongkan sebagai ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan ialah pemikiran yang sifatnya metodis, kritis dan sistematis. Pemikiran tersebut mengikuti cara kimia, morfologis, fisika atau metode perbandingan. Melalui cara yang kritis, manusia dapat memisahkan hasil atau produk yang benar dari hasil yang salah serta hasil yang semu. Jalan pemikiran tersebut biasanya dapat tertangkap dalam suatu sistem yang logis. Penggunaan ilmu pengetahuan untuk kebetuhan manusia dinamakan teknologi.
Kehadiran makanan instan dalam industri makanan di Indonesia juga bisa mempengaruhi gaya mengkonsumsi masyrakat urban. Makan-makanan instan umumnya mengandung kalori, kadar lemak, gula dan sodium (Na) yang tinggi tetapi rendah serat, vitamin A, asam akorbat, kalsium dan folat. Makan-makanan instan adalah gaya hidup masyarakat jaman sekarang.
Keberadaan restoran-restoran yang menyediakan makanan instan yang semakin menjamur di kota-kota besar di Indonesia, yang menyajikan berbagai makanan siap saji yang dapat berupa makanan tradisional Indonesia (seperti restoran padang) dan makanan barat (Kentucy Fried Chicken, California Fried Chicken) yang terkenal dengan ayam gorengnya, di samping jenis makanan yang tidak kalah popular seperti Burger, Pizza, Sandwich, dan sebagainya. Serta rasanya yang lezat membuat mereka yang sibuk dalam pekerjaanya memilih alternatif untuk mengkonsumsi jenis makanan instan, karena lebih cepat dan juga mengandung gengsi bagi sebagian golongan masyarakat. Bahkan di hari libur pun biasanya banyak keluarga yang memilih makanan di luar dengan makanan cepat saji/makanan instan. Pola berpikir mereka seakan ikut berubah. “Kalau ada yang mudah, kenapa harus memilih yang susah?” Dalam sehari seorang remaja mampu mengonsumsi beberapa jenis makanan instan dari makanan ringan sampai makanan pokok yang digantikan dalam bentuk instan. Makanan instan seakan telah mendarah daging dalam diri mereka. Bahkan ada yang menjadikannya sebagai makanan sehari-hari (Khomsan, 2004).[1]
Penelitian ini dilakukan melalui survey. Seperti penelitian yang didapat disaat mengunjungi salah satu tempat makan di daerah Jakarta Selatan, pertama  melihat seseorang yang sedang mengantri untuk memesan salah satu makanan instan yaitu ayam goreng dan Burger lalu menyantapnya dengan lahapnya tanpa peduli efek atau akibat dari makanan cepat saji itu. Seperti yang dikatakan Siska Anggraini : “Saya mengkonsumsi makanan ini bisa seminggu 3 kali karena makanan ini termasuk makanan favorit saya dan saya tahu bagaimana makanan instan itu apakah sehat apa tidak namun, saya tak peduli karena apa yang saya konsumsi sejak dulu sampai sekarang tidak ada efek lain ke saya. Untuk mengkonsumsi makanan instannya pun saya menyeimbangkan dengan makanan-makanan yang bergizi tanpa pengawet seperti sayuran, buahan dan sejenisnya.”[2]
            Makanan cepat saji atau makanan instan mempunyai kelebihan yaitu penyajian cepat sehingga hemat waktu dan dapat dihidangkan kapan dan dimana saja, tempat saji dan penyajian yang higenis, dianggap makanan bergengsi, makanan modern, juga makanan gaul bagi masyarakat. Makanan tersebut umumnya diproduksi oleh industri pengolahan pangan dengan teknologi tinggi dan memberikan berbagai zat aditif untuk mengawetkan dan memberikan cita rasa bagi produk tersebut.
Akibat dari pengonsumsian makanan instan yang berlebihan dapat membuat masyarakat mengabaikan pola makan yang sehat. Lalu bagaimana gaya hidup masyarakat yang mengkonsumsi makanan instan dan pengaruhnya bagi kesehatan?
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dikemukakan, rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
§  Bagaimana gaya masyarakat urban mengkonsumsi makanan instan?
§  Apa pengaruh bagi kesehatan masyarakat?
§  Bagaimana solusi untuk menggunakan makanan instan secara sehat.
1.3  Tujuan Penulisan
Berkaitan dengan perumusan masalah diatas maka tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah sebagai berikut: Untuk mengetahui pengaruhnya terhadap gaya hidup masyarakat mengkonsumsi makanan instan, menemukan solusi dan tips untuk mengatasi pengaruh makanan instan bagi kesehatan, menemukan cara untuk mengkonsumsi makanan instan dengan sehat.


PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Konsumerisme-masyarakat urban
Konsumerisme adalah paham atau ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok melakukan atau menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebihan atau tidak sepantasnya secara sadar dan berkelanjutan. Hal tersebut menjadikan manusia menjadi pecandu dari suatu produk.
Masyarakat urban adalah makhluk sosial yang membutuhkan manusia lain dalam kehidupannya, sekelompok manusia yang saling membutuhkan tersebut akan membentuk suatu kehidupan bersama yang disebut dengan masyarakat.
Konsumerisme pada masyarakat urban adalah sekelompok manusia bermasyarakat yang menjalani suatu kehidupan dengan menggunakan atau mengkonsumsi sesuatu yang berkepentingan individu ataupun sosial dan biasanya dijadikan kebiasaan tanpa memikirkan efek tersendiri dalam mengkonsumsi sesuatunya seperti contohnya mengkonsumsi makanan instan.
Teori ini juga menggunakan teori komunikasi massa karena dalam komunikasi seseorang dapat dipengaruhi dan mempengaruhi suatu informasi ke berbagai khalayak. Komunikasi adalah pesan yang disampaikan kepada komunikan (penerima) dari komunikator (sumber) melalui saluran-saluran tertentu baik secara langsung atau tidak langsung dengan maksud memberikan dampak atau effect kepada komunikan sesuai dengan yang diingikan komunikator. Jadi, komunikasi massa adalah proses penyampaian pesan, ide, atau informasi kepada orang lain dengan menggunakan sarana tertentu guna mempengaruhi atau mengubah perilaku penerima pesan.
Makanan instan adalah jenis makanan yang dikemas, mudah disajikan, praktis, atau diolah dengan cara sederhana. Biasanya makanan instan sering disebut dengan makanan cepat saji. Makanan tersebut umumnya diproduksi oleh industri pengolahan pangan dengan teknologi tinggi dan memberikan berbagai zat aditif untuk mengawetkan dan memberikan cita rasa bagi produk tersebut. Makanan siap saji biasanya berupa lauk pauk dalam kemasan, mie instan, nugget, atau juga corn flakes sebagai makanan untuk sarapan. Makanan instan adalah makanan lezat yang menggoda. Keuntungan pada makanan instan, yaitu ;
1. Cepat saji.
2. Mudah dicari, didapat dan dikonsumsi.
3. Letak yang strategis dikalangan masyarakat.
4. Harga dan bentuk yang bervariasi, mulai dari yang termurah hingga termahal.
5. Tidak pernah ada bosannya untuk menikmati ciptaan makanan yang jauh lebih instan.

2.2              Perilaku Kehidupan Sosial pada Makanan Instan
Setiap manusia memerlukan bahan makanan untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Menggunakan bahan pangan, manusia mampu membangun sel-sel tubuhnya dan menjaganya agar tetap berfungsi dengan semestinya sehingga tetap sehat. Seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi, berbagai jenis makanan dapat dibuat lebih awet, lebih menarik dalam penampilan, lebih aman, lebih enak, serta lebih praktis bagi konsumen. Beberapa diantaranya malahan dapat lebih bergizi.
Ternyata, keamanan makanan menjadi faktor penting dalam pemilihan makanan. Betapa pun tinggi nilai gizi dan nikmatnya suatu hidangan tetapi bila beracun atau tidak aman bagi kesehatan, tidak ada artinya dan harus dihindari. Pantangan mengkonsumsi makanan tertentu disebut Tabu. Melly G.Tan(1974) melakukan survei sosial ekonomi yang banyak membahas masalah tabu diberbagai daerah.[3] Perilaku konsumen perlu diperhatikan determinan yang menjadi dasar perilaku konsumen itu sendiri. Determinan ini dapat dikelompokan menjadi tiga kategori, yaitu pengaruh lingkungan, perbedaan dan pengaruh individual, dan proses psikologis.
Pengaruh lingkungan misalkan pergaulan dari lingkungan sekitar yang menyebabkan timbulnya rasa gengsi ataupun ingin menjadi perilaku yang trendy sehingga mencoba untuk mengkonsumsi makanan instan atau siap saji. Pergaulan yang bila berkumpul selalu membeli atau menyajikan makanan cepat saji. Pengaruh individual misalkan daerah dan suku yang menyebabkan untuk memilih dalam hal memilih makanan. Tradisi yang telah diturunkan oleh nenek moyang mereka yang diteruskan dari generasi-generasi berikutnya, hingga kini. Berbagai tabu banyak dikenakan terhadap kaum wanita, gadis, dara dan orangtua. Proses psikologis Ketergantungan dari pola makan dari sejak kecil yang terlalu sering diberi makanan makanan instan.
Depkes RI berpendapat bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi (Pohan 2007).[4] Kesehatan atau sehat adalah suatu keadaan di mana tubuh dalam keeadaan fit, baik, normal, sempurna, yang mengakibatkan segala aktivitas dapat berjalan dengan efektif. Sehat juga berarti jauh dari sakit.
2.3              Pengaruh Makanan Instan bagi Kesehatan
World Health Organization (WHO) dan Food and Agricultural Organization (FAO) menyatakan bahwa ancaman potensial dari residu bahan makanan terhadap kesehatan manusia di bagi dalam 3 katagori yaitu:
Pertama, aspek toksikologis adalah katagori residu bahan makanan yang dapat bersifat racun terhadap  organ-organ tubuh. Kedua, aspek mikrobiologis adalah mikroba dalam bahan makanan yang dapat mengganggu keseimbangan mikroba dalam saluran pencernaan. Ketiga, aspek imunopatologis adalah keberadaan residu yang dapat menurunkan kekebalan tubuh.
Selain itu untuk para perempuan sebaiknya lebih waspada lagi karena Fast Food dapat menyebabkan kegemukan dan obesitas. Kandungan lemak yang tinggi dalam makanan Fast Food juga dapat merangsang pertumbuhan kanker terutama kanker payudara. Kandungan kolesterol dan kalori yang cukup tinggi pada makanan cepat saji merupakan penyebab kegemukan dan berbagai gangguan metabolisme dan jantung.[5]
Padahal pengonsumsian makanan instan dalam jumlah banyak dan jangka waktu yang lama dapat menimbulkan penimbunan zat aditif yang terkandung dalam makanan instan pada tubuh mereka. Saat ini banyak remaja yang menderita penyakit maag, radang, dan berbagai penyakit yang menyerang alat pencernaan. Hal ini tentu tidak lepas dari kebiasaan mereka mengonsumsi makanan instan.
2.4              Solusi Mengkonsumsi Makanan Instan Secara Sehat
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, pola diartikan sebagai suatu sistem, cara kerja atau usaha untuk melakukan sesuatu (Depdiknas, 2001).[6] Dengan demikian, pola makan yang sehat dapat diartikan sebagai suatu cara atau usaha untuk melakukan kegiatan makan secara sehat.
Pola makan sehat dan seimbang yang dimaksud dalam karya ilmiah ini adalah pola makan yang teratur di mana makanan yang di konsumsi mengandung zat-zat gizi yang jumlahnya sesuai dengan asupan gizi yang dibutuhkan tubuh. Zat-zat gizi tersebut adalah Karbohidrat, Tepung-tepungan, Gula, Lemak, Protein, Vitamin & Mineral, Serat.
Pola makan sehat dan seimbang sangat bermanfaat bagi tubuh, diantaranya menjaga kondisi tubuh untuk tetap sehat dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Selain itu pola makan sehat dan seimbang juga dapat meningkatkan konsentrasi serta kinerja otak. Pola makan sangat berpengaruh bagi kesehatan manusia serta berpengaruh terhadap kinerja tubuh dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Pola makan yang kurang sehat akan menimbulkan dampak negatif bagi tubuh salah satunya menyebabkan ketidakmaksimalan kinerja tubuh dalam melaksanakan aktifitas sehari-hari.

2.5              Faktor Pola Hidup Konsumerisme-masyarakat urban
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pola hidup seseorang, antara lain :
1.      Budaya : letak geografis mempengaruhi makanan yang diinginkannya. Contohnya Makanan laut banyak disukai oleh masyarakat sepanjang pesisir Amerika Utara. Sedangkan penduduk Amerika bagian Selatan lebih menyukai makanan goreng-gorengan.
2.      Agama/Kepercayaan : mempengaruhi jenis makanan yang dikonsumsi. Contohnya agama Islam dan Yahudi Orthodoks mengharamkan daging babi.
3.      Status sosial ekonomi : Pilihan seseorang terhadap jenis dan kualitas makanan turut dipengaruhi oleh status sosial dan ekonomi, salah sataunya pekerjaan.
4.      Pendidikan : Pendidikan dapat mempengaruhi kemampuan menyerap pengetahuan gizi yang diperoleh, tetapi perlu diikuti oleh kemauan untuk menerapkan pengetahuan yang diperolehnya dalam rangka peningkatan status gizi.
5.      Pilihan Sendiri : Hal-hal yang disukai dan tidak disukai sangat berpengaruh terhadap kebiasaan makan seseorang. Orang seringkali memulai kebiasaan makannya sejak dari masa kanak-kanak hingga dewasa.
6.      Rasa lapar, nafsu makan, dan rasa kenyang : Rasa lapar umumnya merupakan sensasi yang kurang menyenangkan karena berhubungan dengan kekurangan makanan. Sebaliknya, nafsu makan merupakan sensasi yang menyenangkan berupa keinginan seseorang untuk makan. Sedangkan rasa kenyang merupakan perasaan puas karena telah memenuhi keinginannya untuk makan.
7.      Kesehatan : Kesehatan seseorang berpengaruh besar terhadap kebiasaan makan. Sariawan atau gigi yang sakit seringkali membuat individu memilih makanan yang lembut.
PENUTUP
3.1  KESIMPULAN
Dari hasil penelitian penulis menyimpulkan bahwa menjaga pola makan agar tetap sehat dan seimbang sangatlah penting bagi masyarakat urban yang memiliki pola makan konsumtif. Hal ini dikarenakan ketersediannya bahan makanan instan yang sangat banyak baik di sekitar lingkungan maupun saat melakukan perjalanan jauh. Selain nikmat tetapi dampaknya sangat besar yaitu kecanduan racun yang seharusnya tidak di konsumsi. Efek yang nyata adalah tubuh para remaja yang di groggoti secara perlahan dan akan menyebabkan penyakit-penyakit yang berbahaya dalam tubuhnya.  Menjaga dari sekarang akan lebih baik daripada mengobati esok hari. Boleh mengonsumsi makanan instan akan tetapi tidak terlalu berlebihan dan tetap mengutamakan menu makanan sehat yang bergizi.
3.2  SARAN
         Untuk menghindari bahaya yang ditimbulkan oleh makanan instan, sebaiknya kita harus mengurangi konsumsi makanan instan mulai dari sekarang. Lebih banyak konsumsi makanan yang bergizi, untuk kesehatan tubuh kita. Jangan menjadikan sesuatu yang berdampak buruk menjadi kebiasaan gaya hidup dan jangan mengikuti atau malu karena perubahan jaman yang membuat kita berdampak buruk untuk diri sendiri.







DAFTAR PUSTAKA
Yuliarti, Nurheti. 2007. Awas! Bahaya di balik Lezatnya Makanan. Jakarta: Andi.

Winarno, F W. 1993. Pangan, Gizi,Teknologi & Konsumen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Khomsan, Ali. 2004. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. Jakarta: RajaGrafindo Persada (Rajawali).

Khomsan, Ali. 2004. Peranan Pangan dan Gizi untuk Kualitas Hidup. Jakarta: Grasindo.

Pohan.I.S., 2007. Jaminan Mutu Layanan Kesehatan: Dasar-Dasar Pengertian dan Penerapan. Jakarta: EGC

MEDIA ONLINE :

http://www.ibudanbalita.com/diskusi/Dampak-negatif-makanan-cepat-saji-bagi-kesehatan, diakses pada tanggal 21 Juni 2014, pukul 11.10

http://www.romeltea.com/pengertian-komunikasi-massa, diakses pada tanggal 23 Juni 2014, pukul 09.20

https://forbetterhealth.wordpress.com/page/21/, diakses pada tanggal 04 Juli 2014, pukul 11.30






[1] Khomsan, Ali. 2010. Pangan  dan  Gizi untuk Kesehatan. Jakarta: Raja Grafindo Persada (Rajawali).

[2] Wawancara yang dilakukan dengan Ibu Siska Anggraini, pada tanggal 22 Juni 2014 di Restoran KFC Jakarta Selatan, pukul 19.25
[3] Winarno, F W. 1993. Pangan, Gizi,Teknologi & Konsumen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
[4] Pohan.I.S., 2007. Jaminan Mutu Layanan Kesehatan: Dasar-Dasar Pengertian dan Penerapan. Jakarta: EGC
[5]http://www.ibudanbalita.com/diskusi/Dampak-negatif-makanan-cepat-saji-bagi-kesehatan, diakses pada tanggal 21 Juni 2014, pukul 11.10
[6]https://forbetterhealth.wordpress.com/page/21/, diakses pada tanggal 04 Juli 2014, pukul 11.30

close
close