Loading...

Minggu, 26 Mei 2019

EKSISTENSI KOMUNITAS YAHUDI KETURUNAN DI JAKARTA: Studi Tentang Komunitas UIJC (The United Indonesian Jewish Community)


EKSISTENSI KOMUNITAS YAHUDI KETURUNAN DI JAKARTA: Studi Tentang Komunitas UIJC (The United Indonesian Jewish Community)

Karmuji Abu Syafar, M.A
Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam
Perguruan Tinggi STAI PTDII
karmujiabusyafar@gmail.com


ABTRAK

Komunitas Yahudi adalah salah satu komunitas agama minoritas yang ada di Indonesia. Komunitas Yahudi sudah  ada sejak masa penjajahan, namun banyak dari komunitas pada masa itu sudah dibubarkan. Saat ini, ada salah satu komunitas Yahudi yang masih eksis di Jakarta salah satunya komunitas yang  bernama UIJC (The United Indonesian Jewish Community).
             Tujuan dari penelitian  ini adalah                 untuk mengetahui bagaimana perkembangan dari komunitas Yahudi yang ada di Indonesia ini. Terutama dalam mengetahui           apa dan bagaimana komunitas ini hidup dalam   lingkungan stereotifikasi yang banyak ditujukan kepada kaum Yahudi.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. Penulis melakukan penelitian kualitatif ini melalui studi pustaka serta wawancara yang melibatkan seorang Rabbi serta pemimpin dari pada komunitas UIJC. pendekatan yang penulis gunakan adalah pendekatan historis dan sosiologis, pendekatan historis penulis gunakan untuk mempelajari dan meneliti  asal muasal Yahudi sebagai agama dan suku masuk dan berkembang di Indonesia, adapun pendekatan sosiologis penulis gunakan bermaksud untuk melihat interaksi umat Yahudi dengan lingkungan  sekitar.
Berdasarkan   hasil   wawancara   dengan   Rabbi   Benjamin,   didapatkan beberapa point penting tentang toleransi keberagamaan, hukum di Indonesia, kehidupan sosial dan pandangan terhadap agama lain serta struktur komunitas yang menaungi UIJC.
Kata Kunci: Yahudi, Komunitas Yahudi, UIJC, Rabbi, Eksistensi.


LATAR BELAKANG MASALAH
Mendengar kata Yahudi pasti yang terlintas di benak kita adalah tentang Israel, Zionisme, konflik dengan Palestina, produk-produk yang dihasilkan oleh Israel yang tidak sadar kita gunakan sehari-hari, dan yang menariknya bahwa umat Yahudi ada di tenggah-tengah kita di Indonesia tentunya.
Indonesia sudah dikenal sebagai negara dengan keragaman agamanya. Menurut UU PNPS no.1 tahun 1969 Jucto PNPS No.5 tahun 1965 agama yang diakui dan dilayani oleh pemerintah Indonesia ialah Islam, Khatolik, Protestan, Hindu, Buddha dan Kong Hu Cu (Confucius). Ini tidak berarti bahwa agama lain seperti Yahudi, Zaoroaster, Shinto, Taoism dilarang di Indonesia. Mereka mendapatkan pengakuan asalkan tidak melanggar peraturan perundangan yang lain.[1]
Dewasa ini, komunitas agama dalam sejarah keberagamaan di Indonesia banyak tersebar di penjuru tanah air, mulai dari Sabang sampai Merauke. Banyak dari mereka mendirikan komunitas untuk mewadahi kaum mereka yang tinggal dalam satu wilayah yang jauh dari negara asalnya agar bersatu  dalam satu naungan. Umat Yahudi yang tersebar di Indonesia sudah ada sejak zaman penjajahan. Sampai saat ini, sebagian besar umat Yahudi berada di  Jakarta dan  Manado yang mempunyai Sinagog serta terdapat tugu Menorah. Jumlah Pemeluk agama Yahudi pada tahun 2011 diperkiran kurang lebih 2000 orang Indonesia keturunan Yahudi dari Aceh sampai Papua.[2]   
       

Dewasa ini, ada empat komunitas Yahudi yang berkembang di Indonesia yaitu UIJC, IJC, Komunitas Yahudi Surabaya dan komunitas Yahudi di Manado.[3] Salah satu yang menarik penulis teliti adalah komunitas UIJC di Jakarta yang dibentuk pada tahun 2009 tetapi diresmikan pada tanggal 28  Oktober tahun 2010 dan dipimpin oleh Benjamin Meijer. Benjamin Meijer telah menemui lebih dari 116 orang berketurunan Yahudi yang tersebar di berbagai kota besar. Seperti Bandung, Jakarta, Bali dan Semarang.
        UIJC lebih banyak didominasi oleh Yahudi asal Belanda, Jerman dan Portugis yang bercampuran dengan pribumi Indonesia. Umumnya banyak di antara mereka yang sudah beralih agama menjadi Islam, Protestan, Khatolik, Hindu dan Buddha. Dari segi fisik perawakan, mereka lebih seperti orang Indonesia pada umumnya.
        Dalam naungan UIJC penganut tidak hanya berasal dari keturunan asli Yahudi, tetapi juga siapapun dapat bergabung dengan syarat mengikuti pembelajaran  dan  melakukan konversi agama serta menerapkan semua ajaran Yudaisme. Dalam  kelompok ini menganut kebebasan beribadah yang disesuaikan dengan kondisi dan pemahaman masing-masing umat.[4]
            Menurut data Anti-Defamation League.[5] 26% orang dewasa dari 102 negara di seluruh dunia memiliki pemahaman yang keliru tentang Yahudi. Dalam konteks Indonesia data yang sama menunjukan bahwa 75 juta warga dewasa di Indonesia dari 156,4 juta orang dewasa di Indonesia juga memiliki pemahaman yang keliru. Secara umum data ini membuktikan kebanyakan orang beranggapan bahwa orang Yahudi hanya memperdulikan kaum sendiri. Lebih jauh mereka juga melihat bahwa Israel telah membiarkan kacau seluruh  dunia dengan perang, lobi dan lain-lain.[6]
        Komunitas Yahudi merupakan komunitas minoritas yang sangat kecil di antara kelompok mayoritas yang banyak di Indonesia. Betapapun dalam konteks Indonesia sudah terdapat undang-undang yang mengatur kebebasan beragama untuk semua warga negaranya, tetapi sebagian besar penganut agama Yahudi di Indonesia tidak berani untuk menunjukan identitas keYahudiannya.
        Dalam  Hal ini mungkin disebabkan oleh kecenderungan dan perbedaan cara pandangan politik dan agama. Konflik religion politic atau konflik politik berbasiskan agama yang terjadi antara negara-negara muslim dan Israel yang salah  satunya dipicu pada isu-isu Palestina sebagai tanah terpilih  untuk  orang-orang Yahudi.
          Secara teologis terdapat sterotifikasi terhadap orang-orang Yahudi dalam pandangan normatif agama Islam. Pandangan-pandangan ini sedikit banyak memberikan amunisi terhadap konflik dan kekerasan antara komunitas Islam dan Yahudi. Oleh karenanya penganut Yahudi di Indonesia lebih memilih  untuk tidak menonjolkan identitas ke-Yahudiannya.
Agama Yahudi bukanlah agama misionaris atau agama yang terus berusaha mencari penganut tambahan seperti dalam tradisi Islam dan Kristen yang oleh  sebagian kalangan ditengarahi sebagai sumber konflik. Betapapun begitu pandangan antisemitik ini tetap berkembang di kalangan masyarakat yang ditujukan pada agama Yahudi.
Dalam jurnal ini penulis berusaha menelusuri eksistensi keberadaan agama Yahudi dengan menitik beratkan penelitian pada komunitas UIJC yang bermukim di wilayah Jakarta. Penting digaris bawahi bahwa keturunan Yahudi yang tergabung dalam komunitas ini secara normatif dalam pengenal mereka memilih Kristen sebagai agama yang tertulis dalam tanda pengenal mereka seperti KTP.

METODE PENGUMPULAN DATA
        Dalam penelitian mengenai Eksistensi Komunitas Yahudi Keturunan di Jakarta: Studi Tentang Komunitas UIJC (United Indonesian Jewish Community) ini penulis menggunakan Kajian Kepustakaan (Library Research), yakni dengan meneliti dan mengkaji literatur-literature seperti buku, jurnal ilmiah, ensiklopedi, majalah, website, dan sumber kepustakaan lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini.[7] Selain itu penulis juga menggunakan penelitian lapangan (Field research) dalam hal ini penulis menggunakan metode wawancara, yaitu upaya yang dilakukan dengan cara mengadakan kegiatan wawancara secara mendalam terhadap pemimpin komunitas UIJC sebagai narasumber untuk menggali data.

HASIL  PENELITIAN
Latar Belakang UIJC (United Indonesian Jewish Community)
            United Indonesian Jewish Community atau yang di singkat dengan UIJC, keberadaannya sudah ada sejak tahun 2003 dan sudah diatur pada tahun 2009 tetapi baru mulai diresmikan menjadi komunitas atau organisasi yang paten pada 28 Oktober 2010, latar belakang pendirian komunitas ini adalah sebagai wadah bagi para  keturunan Yahudi ataupun orang yang mau belajar Yahudi. Anggotanya terdiri dari berbagai daerah yang ada di Indonesia, seperti di Lampung, Jakarta, Magelang, Jogja, Manado, Ambon dan Papua. Setiap daerah mempunyai pemimpinnya sendiri yang sudah cakap untuk memimpin ibadah mereka, mereka juga dapat melakukan atau memimpin upacara penguburan, kelahiran bayi, sunat dan mendampingi untuk menikahkan akan tetapi untuk upacara pernikahan mereka tetap harus mengundang Rabbi Benjamin Meijer Verbrugge selaku Rabbi dan pemimpin komunitas UIJC yang sudah memiliki lisensi sebagai Rabbi.
            Rabbi  Benjamin Meijer Verbrugge  lahir dari ayah yang beragama Muslim dari Jawa dan ibu beragama Yahudi dari Belanda-Belgia. Ayah dari Rabbi Benjamin Meijer adalah generasi ke-5 dari pangeran Jayakusumo, adik lelaki dari Raja Brawijaya V. Sedangkan ibu Rabbi Benjamin lahir dari keluarga Benyamin Meijer Cohen, putra dari keluarga kerajaan  Lois Meijer Cohen. Nama Verbrugge adalah nama yang digunakan selama perang dunia ke II untuk menyembunyikan Identitas keyahudian keluarga dari ibu  rabbi Benjamin. ia juga telah bekerja dan mempunyai kedai kopi sejak tahun 1996 dan pernah belajar  psikologi tentang issue Post Modern. Selain menjadi pemimpin dan rabbi dalam komunitas UIJC, rabbi Benjamin juga mempunyai beberapa pengalaman dan keahlian seperti menjadi Psikologi  konseling dan terapi untuk masalah pernikahan, keluarga, perceraian, Aborsi, stress dan lainnya. Rabbi Ben juga  adalah seorang  Penasehat di Bait Touroni di kepulauan Maluku, penasehat di Brit Bracha dibawah pengawasan komunitas UIJC dan menjadi instruktur bahasa Inggris.
            Rabbi Benjamin juga mengambil sekolah untuk ke-Rabian di Chasidic Rabbi Joseph H. Gelberman Rabbinical Seminary International di New York, Kodesh  Jewish Learning Institute Chicago dan Yeshiva Baal Kore (Rabbinic).
            Jumlah anggota UIJC Saat dibentuk pertama kali ada 99 orang dewasa dan pada tahun 2011 terdapat 250 orang yang  sudah bergabung dan berdoa sesuai akarnya[8]. Anggota UIJC sekarang sekitar  162 orang dan yang sudah bersertifikat Yahudi Keturunan Asli ada 108 orang, tetapi untuk penganut Yahudi di Jakarta ada kurang lebih sekitar 30 sampai 50 orang.[9]
            Setiap tahunnya UIJC selalu mengadakan perkumpulan Nasional bertempat di Bali atau Jakarta dengan mengundang dua Rabbi mentor untuk melakukan standarisasi dunia mengenai hal-hal yang bersangkutan dengan ibadah mereka. Contohnya mengenai makan Khoser.  Tidak gampang untuk  menemukan  makanan yang Khoser di Indonesia, untuk makanan seperti Gado-gado, umat Yahudi harus benar-benar membuat itu dengan alat yang Khoser, bahan makanan yang Khoser dan lainnya yang kekhoserannya benar-benar teruji.
            Perkumpulan ini dilakukan untuk mencapai satu kesepakatan dalam hal-hal yang bersangkutan dengan peribadahan mereka dan perkumpulan ini dilakukan dua kali dalam setahun, biasanya dilaksanakan dibulan Januari dan bulan Juli.
            Komunitas ini terdiri dari kumpulan orang-orang yang beraneka ragam dengan latar belang keluarga yang berdeda-beda pula. Orang-orang keturunan Yahudi yang tergabung dalam United Indonesian Jewish Community  memiliki darah Yahudi dari Timur Tengah (keturunan Yahudi-Turki dan Yahudi-Irak) dan dari Eropa (Yahudi-Portugis dan Yahudi-Belanda) yang didapatkan ketika orang-orang Yahudi berdiaspora hingga ke Indonesia.
            Pada umumnya, orang yang masuk dalam komunitas ini telah terlebih dulu dibesarkan dengan agama yang ada di Indonesia. Namun, ketika mereka mengetahui bahwa mereka mempunyai garis keturunan atau darah Yahudi dan didukung oleh unsur etnisitas yang dimiliki kemudian terjadi identifikasi dalam diri mereka. Orang-orang keturunan Yahudi tersebut mulai meninggalkan agama awal mereka dan mulai mecari tahu dan mempelajari ajaran Yudaisme.
            Pada awalnya mereka mempelajari Yudaisme hanya dari internet lalu ketika bergabung dengan komunitas Yahudi, mereka belajar Yudaisme dengan pemimpin komunitas tersebut. Mereka mempelajari Torah, Talmud, Shulchan dan buku-buku Yahudi lainnya untuk menunjang beribadah mereka sehari-hari. Dalam mempelajari bahasa Ibrani, Para Rabbi yang sudah dapat membaca Ibrani membantu mereka dalam membaca dan memperlancar kemahiran bahasa Ibrani mereka. Melalui komunitas, mereka dapat berinteraksi dengan keturunan-keturunan Yahudi yang lainnya sehingga secara tidak langsung keturunan Yahudi mendapatkan pengakuan dirinya sebagai Yahudi secara sosial.[10]
            Dalam sikapnya terhadap Israel, mereka mengaku memahami Zionisme sebagai gerakan politik bangsa Yahudi yang ada diseluruh dunia untuk kembali dan dapat mendirikan negara Yahudi di tanah tanah Yahudi (Eretz Yisrael). Pada suatu saat nanti umat Yahudi yang ada di Indonesia juga ingin pindah dan tinggal di Israel, karena menjadi seorang Yahudi yang seutuhnya akan lebih baik jika tinggal di Israel. Mereka mengetahui bahwa Indonesia tidak mendukung kemerdekaan Israel dan juga Zionisme sehingga sulit bagi mereka untuk membuka identitas sebagai seorang penganut agama Yahudi.
            Namun, karena mereka memiliki darah dan lahir di Indonesia, sehingga identitas Yahudi yang mereka miliki adalah sebuah identitas yang diperjuangkan tanpa mengabaikan identitas Indonesia yang mereka miliki. Kenyataan mereka lahir dan hidup di lingkungan masyarakat Indonesia diharapkan dapat dimengerti oleh masyarakat Indonesia pada umumnya dan berpikir terbuka terhadap agama Yahudi. Menjadi seorang penganut agama Yahudi di Indonesia membuktikan bahwa orang-orang Yahudi yang tinggal di Indonesia memiliki misi perdamaian bukan perpecahan, karena tujuan hidup mereka adalah membawa Shaloom (kedamaian)  dan Tikun  Olan (memperbaiki dunia).
            Kegiatan sehari-hari mereka (umat Yahudi) di Jakarta adalah beribadah di rumahnya masing-masing dan setiap minggu diadakan kelas online yang mana Rabbi mentornya masuk dalam kelas tersebut dan menjelaskan  apa saja yang menjadi bahasan dalam kelas online tersebut. Biasanya mereka membahas masalah-masalah yang dihadapi umat Yahudi dan memperdalam ilmu keYahudiannya.[11]

Peran UIJC bagi Komunitas Yahudi di Indonesia
Sebagai pemeluk  agama Yahudi yang minoritas di Indonesia dan mempunyai beberapa komunitas kecil di Indonesia, dalam hal ini, komunitas  UIJC berperan bukan sebagai pemimpin semua komunitas di Indonesia melainkan sebagai salah satu dalam komunitas kecil itu. Artinya UIJC bukan yang menaungi semua komunitas Yahudi yang ada di Indonesia.
Agama Yahudi bukanlah agama misionaris atau agama penyebaran seperti Islam dan Kristen. Agama Yahudi tidak mempunyai peran terhadap persoalan penyebaran agama, karena yang dapat masuk dalam Yahudi hanya orang yang mempunyai darah keturunan Yahudi. Disini UIJC dan  komunitas manapun tidak  mengambil peran dalam penyebaran agama Yahudi di Indonesia.
Melihat perannya dalam pemerintah, Pemerintah Indonesia belum mempunyai hubungan diplomatik secara resmi dengan Israel. Dengan adanya komunitas yang dinaungi oleh organisasi yang telah diakui negara Israel seperti WUPJ dan UIJC dalam naungan organiasi tersebut. Hubungan Indonesia dengan  Israel hanya sebatas negara antar negara belum adanya kesepakatan antar negara. Tetapi ada salah satu lembaga yang benama IIPAC yang terfokus hanya pada Bisnis saja tidak  untuk kerja sama antara pemerintah. Disini UIJC berperan  dalam mengikuti kegiatan dari lembaga  tersebut meski belum sepenuhnya berperan.
Setiap komunitas pasti memiliki keanggotaan di seluruh wilayah di Indonesia, anggotanya bebas memilih untuk mengikuti kepada kelompok komunitas manapun yang mereka inginkan. Tetapi mereka (tiap komunitas Yahudi di Indonesia) solid satu sama lain.
Jadi, komunitas UIJC dengan komunitas Yahudi di Indonesia berhubungan baik. Sama-sama mewadahi keturunan Yahudi dan saling menghormati satu sama lainnya, saling tolong menolong karena satu tujuan. Hanya berbeda tempat dan berbeda aliran saja. Intinya tetap sama, menerapkan Shalom (kedamaian) dan Tikun Olam (memperbaiki  dunia).[12]

Masalah yang Dihadapi Komunitas UIJC di Jakarta
Dalam hal ini, komunitas minoritas dan kaum minoritas sering mendapatkan diskriminasi dalam beberapa hal, seperti dalam hal keagamaan, umat Yahudi tidak dapat menunjukan identitas keyahudiannya disebabkan oleh stereotifikasi yang  ditujukan oleh masyarakat mayoritas terhadap kaum Yahudi di Indonesia.
Dalam hal lainnya seperti belum dapat menyematkan kolom agama di kartu tanda penduduk atau KTP serta jika kaum Yahudi akan menikah, mereka menggunakan adat pernikahan  agama lain supaya dapat disahkan pernikahannya oleh pemerintah. Hal ini menunjukan bahwa dalam acara sakral pun mereka harus meminjam adat pernikahan dari agama lain.
Stereotifikasi yang ditujukan oleh masyarakat mayoritas terhadap Yahudi adalah sebagian besar karena belum dapat menerima kehadiran agama dan umat Yahudi dalam lingkungannya.
Stereotifikasi ini ditujukan dengan cara terang-terangan oleh kalangan mayoritas, sehingga banyak dari umat Yahudi yang tidak mempunyai ruang gerak dalam artian tidak bebas memeluk agama yang dipercayai atau yang dianut menurut kehendak hatinya sendiri di negara kelahirannya.
Saat ini di Indonesia masalah besar yang dihadapi oleh umat Yahudi adalah kebencian kaum Islam terhadap Yahudi dan antisemitik terhadap Yahudi yang kian gencar dikala negara Israel menyerang Palestina. Dikala itulah masyarakat Indonesia yang beragama Islam sangat membenci Yahudi dan menyamaratakan semua Yahudi adalah Zionisme.
Kebencian masyarakat Indonesia terhadap Yahudi adalah kurangnya minat mengenal sejarah dan mengenal lebih dalam tentang Yahudi. Ada pepatah mengatakan “tak kenal maka tak sayang” , masyarakat Indonesia tidak mengenal agama Yahudi maka selamanya akan mempunyai pandangan buruk kepadanya.
 Masalah inilah yang menimbulkan kekhawatiran bagi penganut agama Yahudi, ketika menggunakan atribut keibadahannya di muka umum maka akan menjadi incaran kebencian yang tidak akan ada habisnya. Maka dari itu kebanyakan penganut agama Yahudi merahasiakan indentitasnya demi keselamatan dan juga harga dirinya.
Dalam masalah ini, komunitas-komunitas minoritas Yahudi yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia membuat benteng pertahanannya sendiri-sendiri, dalam artian mereka mempunyai caranya sendiri untuk bertahan hidup dengan  kepercayaan mereka. Tapi pada masa pemerintahan presiden Gus dur, Gusdur mempunyai teman baik yang beragama Yahudi.[13]
Tetapi menurut Benjamin Meijer, masalah yang dihadapi oleh diri sendiri justru bukan datang dari orang Islam, melainkan dari orang Kristen. Karena mereka mengatakan (orang Kristen) yang membunuh Yesus adalah orang-orang Yahudi.
Dalam hal ini, Monic Rijker selaku keturunan Yahudi mendirikan suatu gerakan yang disebut Haddasah of Indonesia, yang mana gerakan ini diisi oleh kegiatan yang memaparkan segalanya tentang Israel serta salah satu jalan untuk mengenal lebih jauh agama Yahudi dan negara Israel.
Selain masalah di atas, umat Yahudi di Indonesia kesulitan untuk mencari makanan yang Khoser. Sedangkan di Indonesia sendiri khususnya di Jakarta belum ada pasar atau supermarket yang menyediakan khusus makanan khoser. Untuk  wilayah APJ, Supermarket yang menyediakan makanan Khoser hanya ada di Singapura.

Pandangan Komunitas UIJC Terhadap Agama dan Keberagaman Budaya di Jakarta
Dewasa ini di Indonesia banyak sekali keanekaragaman budaya, begitu pula dengan agama. Ada agama moyoritas dan minoritas, salah satu agama minoritas di Indonesia adalah agama Yahudi. Agama ini adalah agama yang dibawa oleh orang Ibrani yang berdiaspora sampai ke Nusantara.
Jadi, menurut Rabbi Benjamin Meijer Verbruge selaku pemimpin komunitas UIJC, dengan keberagaman budaya dan khususnya agama di Indonesia ini. Diharapkan dapat lebih menerima agama Yahudi sebagai agama yang juga menjunjung tinggi nilai kedamain dan menghapuskan stereotifikasi terhadap agama Yahudi.
Karena sebagai lazimnya manusia adalah memanusiakan manusia lainnya. Begitu pula dengan umat beragama, mereka tidak untuk dipandang hanya dengan apa yang mereka miliki tapi pandanglah lebih dalam lagi makna dari sebuah agama itu sendiri.
Pandangan umat Yahudi tentang keberagaman budaya di Indonesia tidak lepas dari budaya orang-orang Indonesia yang dinilai ramah terhadap orang lain. Budaya di Indonesia begitu beragam dari sabang sampai merauke, orang Yahudi begitu menyukai budaya yang ada di nusantara ini. Tapi pada hakikatnya mereka akan kembali ke tanah yang di janjikan yaitu tanah Israel.
Indonesia adalah negara dengan penduduk yang mayoritas muslim, meski begitu sikap toleransi yang dirasakan oleh komunitas UIJC cukup baik, dan bagi komunitas ini, ajaran Yahudi memberikan mereka dukungan dengan mengaplikasikan ayat-ayat taurat kedalam kehidupan sehari-hari mereka untuk hidup bersama dan berdampingan dengan baik. Karena mereka percaya keselamatan individu dapat diperoleh dengan cara masing-masing, dan semua agama mengajarkan jalan keselamatan yang berbeda-beda pula.
Anggota Komunitas UIJC yang berada di Jakarta ini yang sering berinteraksi  dengan lingkungan sekitar yang pasti ada orang muslim. Mereka memandang Islam dengan agama yang sama-sama mengajarkan tentang kedamaian, keselamatan dan sama-sama mempunyai Tuhan yang Esa. Sama halnya dengan agama yang ada di Indonesia seperti Khatolik, Protestan, hindu, Budha dan Konghucu. Mereka juga mempunyai jalan keselamatan yang berbeda pula dan  sama-sama mempunyai Tuhan yang Esa. Hanya saja yang sangat disayangkan berita-berita yang mengandung antisemitik dan stereotifikasi yang banyak dimunculkan untuk memecahbelah persatuan Indonesia yang beralasan Agama.
Hukum di Indonesia yang mereka rasakan cukup baik,  hanya saja kebijakan atas pengisian kolom agama pada kolom KTP yang belum dapat  ditulis dengan agama Yahudi. Dan umat Yahudi memandang bahwa kehidupan sosial di Indonesia lebih baik dari pada di Amerika Serikat, menurut Rabbi Benjamin Masyarakat Indonesia sangat Religius.
Pada hakikatnya umat Yahudi mempunyai kepercayaan akan Aliyah, suatu tradisi yang kembali ke tanah aslinya yaitu Israel. Sebagaimana yang dikatakan dalam surat Yehezkiel 37:21 “ katakanlah kepadanya: beginilah firman tuhan Allah: sungguh, aku menjemput orang Israel dari tengah bangsa-bangsa, kemana mereka pergi, aku akan mengumpulkan mereka dari segala penjuru dan  akan membawa mereka ke tanah merdeka”.[14] Menurut Rabbi benjamin, tidak menutup kemungkinan  umat Yahudi di Indonesia akan pergi ke Israel dan menetap disana, tetapi mereka menunggu tanda dari Tuhan, karena Tuhan yang mengatur semua rencana manusia.
Saat ini, mereka hanya akan melakukan Tikun Olam,  yang berarti  membuat perubahan pada yang lebih baik di negara yang mereka tinggali yang berimbas pada kemaslahatan umat manusia.

KESIMPULAN
Perkembangan Yahudi di Jakarta tidak lepas dari sejarah Yahudi pada masa penjajahan. Karena agama Yahudi datang ketika orang-orang Yahudi berdiaspora mengikuti dengan datangnya bangsa Portugal ke Nusantara.
Dalam perjalanan sejarahnya melalui diaspora, orang-orang Yahudi dipaksa untuk dapat beradaptasi di lingkungan yang mereka tinggal, hal inilah yang menjadikan identitas kaum Yahudi berbeda dari satu wilayah dengan wilayah lainnya. Kaum Yahudi tidak terlepas dari budaya dan tradisi yang membedakan mereka Yahudi dengan yang bukan Yahudi.
Komunitas Yahudi di Indonesia didirikan atas dasar umat Yahudi dapat lebih dalam mempelajari Yudaisme dan memahami ajaran-ajaran dalam agama Yahudi. Melalui komunitas juga mereka paham akan tugas yang sering di sebut Tikun Olam atau memperbaiki dunia dimanapun mereka berada.
Komunitas UIJC adalah salah satu komunitas yang saat ini masih eksis menaungi umat keturunan Yahudi yang berada di Indonesia. Mereka memiliki sinagog di beberapa wilayah yang ada anggota UIJC, tetapi mereka tidak ingin sinagog-sinagog tersebut diketahui oleh orang luar (selain Yahudi), mereka sangat merahasiakan sinagog mereka. Tetapi menurut Monice Rijker selaku founder Haddasah Indonesia[15], UIJC mempunyai sinagog yang berada di Bekasi tetapi tidak disebutkan alamat dan bagaimana kondisi sinagog tersebut.
Dewasa ini di lihat dari penelitian penulis tentang perkembangan umat Yahudi di Jakarta, masih banyak umat keturunan Yahudi yang tinggal di Jakarta meski mereka mengganti kolom agama dengan agama lain, kebanyakan dari mereka memasukan agama Kristen. Karena dalam agama Kristen tidak terikat ibadah setiap waktu seperti halnya dalam agama Islam yang mengharuskan beribadah lima kali sehari. Dalam agama Kristen hanya beribadah pada hari minggu dan jika tidak mengikuti ibadah pada hari itu pun tidak ada larangan. Maka dari itu kebanyakan umat Yahudi di Jakarta menyematkan agama pada kolom KTPnya adalah agama Kristen.
Agama Yahudi terdapat beberapa aliran yang uniknya hampir semuanya didirikan oleh para Rabbinya sendiri seperti aliran Reconstructionist yang didirikan oleh Rabbi Mordecai Kaplan, Humanistic yang didirikan oleh Rabbi Sherwin Wine, dan Renewal yang didirikan oleh Rabbi Zalman Schachter-Shalomi. Di samping tiga itu, ada juga beberapa aliran lain yaitu, Reform sebagai aliran terbesar di kalangan Yahudi Amerika, lalu disusul oleh aliran Conservative sebagai aliran terbesar kedua di kalangan Yahudi Amerika.

DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Zaenal. “Eksistensi Pemeluk Agama Yahudi di Manado,” Multikultural dan Multireligious  Vol. 14, no. 3 (Oktober 2015):  h. 101.
Anugrah Harahap, Thigor “Menelusuri Komunitas Yahudi di Indonesia”, h. 16.
Pusat kerukunan Umat Beragama (PKUB), Himpunan Peraturan tentang Layanan NegaraTerhadap Kehidupan Beragama (Jakarta: PKUB, 2015), h. 36.
Sumandoyo, Arbi. ” Mencari Jati Diri Sebagai Seorang Yahudi”, artikel ini diakses pada 28 Februari 2017 dari https://tirto.id/mencari-jati-diri-sebagai-seorang-yahudi-bWax.
Sumandoyo, Arbi “Sejarah Kebencian Terhadap Yahudi di Indonesia”, artikel ini diakses pada tangga 28 Juni 2018 dari https://tirto.id/sejarah-kebencian-terhadap-yahudi-di-indonesia-crWa.
Suprayogo, Imam dan Tabrani,.Metodologi Penelitian Studi Agama (Bandung:PT.Remaja   Rosdakarya,2001), h. 59

Wawancara:
Lihat dalam Transkript wawancara Faisal Assegaf, artikel ini diakses pada 28 Februari 2017 dari http://www.aiya.org.au/wp-content/uploads/2014/05/Transcript-Wawancara-Pak-Faisal-Assegaf-New-Copy.pdf.
Wawancara langsung dengan Pak Benjamin Meijer Verbrugge melalui telephone pada tanggal 18 April 2018.
Inside: Berdarah Yahudi, Bernafas Indonesia” daimbil pada video youtube pada tanggal 1 maret 2016 dari https://www.youtube.com/watch?v=AXK2u36CFJU.
Lihat Perjanjian  lama surat Yehezkiel  ayat 37 No.  21
Lihat dalam Transkript wawancara Faisal Assegaf, artikel ini diakses pada 28 Februari 2017 dari http://www.aiya.org.au/wp-content/uploads/2014/05/Transcript-Wawancara-Pak-Faisal-Assegaf-New-Copy.pdf.


[1]Pusat kerukunan Umat Beragama (PKUB), Himpunan Peraturan tentang Layanan NegaraTerhadap Kehidupan Beragama (Jakarta: PKUB, 2015), h. 36.
[2]Lihat dalam Transkript wawancara Faisal Assegaf, artikel ini diakses pada 28 Februari 2017 dari http://www.aiya.org.au/wp-content/uploads/2014/05/Transcript-Wawancara-Pak-Faisal-Assegaf-New-Copy.pdf.
[3]Arbi Sumandoyo, ” Mencari Jati Diri Sebagai Seorang Yahudi”, artikel ini diakses pada 28 Februari 2017 dari https://tirto.id/mencari-jati-diri-sebagai-seorang-yahudi-bWax.
[4]Zaenal Abidin, “Eksistensi Pemeluk Agama Yahudi di Manado,” Multikultural dan Multireligious  Vol. 14, no. 3 (Oktober 2015):  h. 101.
[5]Anti-Defamation League adalah sebuah organisasi  non-pemerintah yang berbasis di New York, Amerika Serikat. Organisasi ini melawan anti-semitisme dan seluruh  bentuk  kefanatikan, mempertahankan pemikiran  dekoratik dan melindungi hak asasi sipil untuk seluruh masyarakat melalui informasi, pendidikan, legislasi dan advokasi.
[6]Arbi Sumandoyo, “Sejarah Kebencian Terhadap Yahudi di Indonesia”, artikel ini diakses pada tangga 28 Juni 2018 dari https://tirto.id/sejarah-kebencian-terhadap-yahudi-di-indonesia-crWa.
[7]Imam Suprayogo dan Tabrani, Metodologi Penelitian Studi Agama (Bandung:PT.Remaja   Rosdakarya,2001), h. 59
[8]Lihat dalam Transkript wawancara Faisal Assegaf, artikel ini diakses pada 28 Februari 2017 dari http://www.aiya.org.au/wp-content/uploads/2014/05/Transcript-Wawancara-Pak-Faisal-Assegaf-New-Copy.pdf.
[9]Wawancara langsung dengan Pak Benjamin Meijer Verbrugge melalui telephone pada tanggal 18 April 2018.

[10]Thigor Anugrah Harahap, “Menelusuri Komunitas Yahudi di Indonesia”, h. 16.
[11]Wawancara langsung dengan Pak Benjamin Meijer Verbrugge melalui telpon pada tanggal 18 April 2018.

[12]Wawancara langsung dengan Pak Benjamin Meijer Verbrugge melalui telpon pada tanggal 18 April 2018.
[13]“Inside: Berdarah Yahudi, Bernafas Indonesia” daimbil pada video youtube pada tanggal 1 maret 2016 dari https://www.youtube.com/watch?v=AXK2u36CFJU.
[14]Lihat Perjanjian  lama surat Yehezkiel  ayat 37 No.  21
[15]Haddasah Indonesia adalah sebuah yayasan yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat  Indonesia mengenai Israel.
close
close