Senin, 10 Februari 2020

Kritik Wacana Tafsir Hudud

Wahyu Misbach, M.A. (Dosen STAI PTDII) | Syariat Islam yang termaktub di dalam Alquran dan as-Sunnah bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Tak terkecuali had atau hudud di dalamnya sebagai sebuah sanksi pidana yang ukuran dan bentuknya telah ditentukan oleh Allah untuk melindungi Hak Adami maupun Hak Allah.

Sebagai sebuah Negara yang berpenduduk mayoritas muslim di satu sisi dan berlandaskan pancasila di sisi yang lain (bukan Negara Islam) membuat sebagian kalangan mendesak agar penerapan syariat (baca: hudud dan qishas) diberlakukan dan sebagian lainnya menolak diberlakukan di Indonesia.

Memang nash tentang hudud dan qisas sudah gamblang secara manthuq sehingga bisa dijadikan instrumen untuk menuntut pelaku pidana menuju pesakitan. Namun perlu kajian mendalam tentang tathbiq al-hudud di Indonesia karena banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan terutama keadilan dalam ranah politik, ekonomi, dan social.

Yusuf Qaradlawi mengatakan, Penerapan Syariat Islam khususnya hudud dan juga qishas agak sulit dilakukan karena syarat penerapannya amat berat. Tidak boleh menerapkan syariat setengah-setengah karena semua unsur syariat saling sokong-menyokong. Sejarah menunjukkan bahwa hudud diterapkan oleh Rasulullah Saw pasca aqidah, akhlak, dan syariat terpatri kokoh di dada para sahabat. Penerapan qishas dan hudud tanpa tarbiah dan taujihah sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah SAW, bisa melahirkan ketidakadilan.

Selanjutnya...
close
close