SELAMAT DATANG MAHASISWA BARU TAHUN 2020/2021

Kamis, 03 September 2020

Diterima di Dua Kampus Negeri, Mahasiswa Ini Lebih Pilih STAI-PTDII





Banyak cara dan upaya setiap orang dalam menuntut ilmu, meskipun dalam kondisi susah payah, kewajiban tersebut harus dipenuhi. Seperti yang dilakukan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam-Perguruan Tinggi Dakwah Islam (STAI-PTDII) tingkat akhir, Imam Zahid.



Mahasiswa asal Cilincing, Jakarta Utara ini sejak awal bertekad menuntaskan perkuliahan hingga tingkat akhir. Imam bukan berasal dari orang tua yang kaya dan berkecukupan.



Dalam menafkahi keluarganya, sang ayah rela ‘mengukur jalan’ alias mengojek dari satu tempat ke tempat lain. Tanpa kenal lelah, ia tidak pernah patah arang demi memenuhi kebutuhan sehari-harinya.



Sementara, ibu Imam merupakan karyawan garmen di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Marunda. Gaji bulanan yang didapat alhamdulillah dapat membantu suami dan imam sebagai putra semata wayang.



Alhamdulillah senang dapat ikut siding skripsi, meskipun nyesal juga baru ikut sekarang dan sempat terkendala saat bimbingan (skripsi),” kata Imam, saat ditemui usai Sidang Munaqosah, kemarin (3/9).



Mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) ini sejak sekolah menengah atas (SMA) terbilang 'jago' dengan ilmu eksak, seperti matematika, kimia, dan fisika. Dalam mengasah kemampuannya, Imam mengikuti Beasiswa Bidik Misi tanpa tes di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan dinyatakan lolos.



“Nilai saya itu buat masuk UIN (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta) juga bisa, tapi hati lebih tertarik kuliah di sini (STAI-PTDII),” tuturnya.



Tekad kuat imam mengambil PAI di kampus yang berdiri sejak tahun 1962 ini mendapat dukungan dari orang tuanya, terutama ayahnya. Ia lebih setuju dan menyarankan Imam kuliah di STAI-PTDII dan mengambil salah satu dari tiga program studi (Prodi) yang tersedia, di antaranya Pendidikan Agama Islam (PAI), Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), dan Hukum Ekonomi Syariah (HES).



Kini, Imam selain bekerja di KBN, ia juga mengembangkan bimbingan belajar (Bimbel) bersama teman sebayanya di wilayah Cilincing, Jakarta Utara. Muridnya saban hari terus bertambah. Bagi Imam, gelar sarjana pendidikan Islam (S.Pd.I) bukanlah tujuan, tapi bagaimana bisa memberikan manfaat untuk banyak orang.



“Saya bersama teman sewa ruko di Kali Bangleo (Cilincing), untuk pelajaran matematika dan bahasa Inggris. Tadinya mau sewa di PUP (Pondok Ungu Permai), tapi mahal banget bang setahun Rp35 juta, kalau ini Rp15 juta,” ujar penyusun skripsi dengan judul ‘Strategi Guru dalam Menumbuhkan Keimanan Santri TPA di Musala Al-Mujahidin, Bekasi Utara, Kota Bekasi’.



Dia berharap, ke depan dapat mengembangkan Bimbel seperti Primagama, Nurul Fikri, Bintang Pelajar, dan lainnya di beberapa cabang. “Mudah-mudahan seperti itu bang, walaupun harus pelan-pelan dan rajin sosialisasi lewat brosur, sosmed (sosial media), dan sebagainya. Mohon doanya,” katanya mantap.

close
close