SELAMAT DATANG MAHASISWA BARU TAHUN 2020/2021

Senin, 07 September 2020

Kemenag: Penceramah Bersertifikat Beda dengan Sertifikasi Profesi


Kementerian Agama menegaskan bahwa program penceramah bersertifikat bukan sertifikasi profesi. Hal ini dijawab Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam), Kamaruddin Amin menjawab reaksi dan keras dari para ulama, seperti Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Abbas.

 



"Penceramah bersertifikat ini bukan sertifikasi profesi, seperti sertifikasi dosen dan guru. Kalau guru dan dosen itu sertifikasi profesi sehingga jika mereka sudah tersertifikasi maka harus dibayar sesuai standar yang ditetapkan," katanya di Jakarta, Senin (7/9).

 



"Kalau penceramah bersertifikat, ini sebenarnya kegiatan biasa saja untuk meningkatkan kapasitas penceramah. Setelah mengikuti kegiatan, diberi sertifikat," lanjutnya.

 



Penceramah Sertifikat, kata Kamaruddin, seperti program peningkatan kapasitas penyuluh agama dan penghulu yang dilalukan Dirjen Bimas Islam. Saat ini tercatat ada sekitar 50ribu penyuluh dan 10ribu penghulu di Indonesia. Guna mengoptimalkan layanan, mereka secara bertahap ditingkatkan kapasitasnya di bidang literasi tentang zakat, wakaf, moderasi beragama. Setelah mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas, mereka mendapatkan sertifikat.

 



"Ini sertifikasi biasa yang tidak berkonsekuensi apa-apa. Jadi bukan sertifikasi profesi sehingga ini tidak berkonsekuensi wajib atau tidak. Bukan berarti yang tidak bersertifikat tidak boleh berceramah; atau yang boleh berceramah hanya yang bersertifikat. Sama sekali tidak begitu," ujar Kamaruddin.

 



"Ini hanya kegiatan biasa yang ingin memberikan afirmasi kepada penceramah kita, ingin memperluas wawasan mereka tentang agama dan ideologi bangsa. Jadi ini bukan sertifikasi, tapi penceramah bersertifikat," lanjutnya.

 



Kamaruddin menambahkan, penceramah bersertifikat berlaku untuk penceramah semua agama. Namun, program ini tidak bersifat wajib atau mengikat. Dalam pelaksaannya, Kemenag berperan sebagai fasilitator dan koordinator. "Untuk Bimas Islam, target tahun ini 8.200 penceramah. Kemenag mengajak MUI bisa ikut memberikan materi," ujarnya.

 

 



Sekjen MUI, KH Anwar Abbas menolak tegas dan keras program dai dan penceramah bersertifikat yang akan dilaksanakan oleh Kementerian Agama dan melibatkan MUI. Ia justru heran, sikap dan cara pandang Menteri Agama selalu bicara tentang radikalisme di mana ujungnya selalu  mendiskreditkan dan menyudutkan umat Islam serta para dainya.



“Bila (program dai dan penceramah bersertifikat) ini terus dilaksanakan dan teman-teman di MUI menerimanya, maka begitu program tersebut diterima oleh MUI, ketika itu juga saya Anwar Abbas tanpa kompromi menyatakan diri mundur sebagai Sekjen MUI. Demikian pernyataan sikap saya ini saya sampaikan sebagai pertanggung jawaban saya kepada Allah Swt dan kepada umat Islam di indonesia untuk diketahui,” katanya.

close
close